Wednesday, May 30, 2012

Dr. Johannes Leimena

Dr. Johannes Leimena (lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905 – meninggal di Jakarta, 29 Maret 1977 pada umur 72 tahun). Dirinya, adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri dalam kabinet Republik Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora. Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen), Batavia. Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu. Karena adanya perubahan sistim pendidikan kedokteran di Hindia Belanda pada tahun 1927 yaitu STOVIA ditutup dan didirikan GHS (Geneeskunde Hogeschool atau Sekolah Tinggi Kedokteran), maka setelah menempuh setengah pendidikan kedokterannya di STOVIA, ia sempat melanjutkan pendidikan sebagai dokter di GHS itu di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1930. Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930 . Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tak lama ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun 1931 sampai 1941. Dizaman Jepang dan Revolusi (1942-1945) bertugas di Rumah Sakit Tanggerang. Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara. Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Pada tanggal 29 Maret 1977, J. Leimena meninggal dunia di Jakarta. Sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 52 TK/2010 pada tahun 2010 memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Dr. Leimena. (Sumber Wikipedia yang diperbaiki).
Foto: Dr Leimena di Kemayoran Jakarta, pada akhir tahun 1947 menyambut kedatangan Horace Merle Cochran dari Amerika Serikat, Cochran selaku ketua Komisi Tiga Negara (KTN). KTN dibentuk dalam rangka perundingan Indonesia-Belanda 1947-1948 (Renville dan Kalurang)

Tuesday, May 22, 2012

Bemo berumur 50 tahun

Tidak terasa kedaraan dari pabrik Daihatsu ini sudah berumur 50 tahun (1962-2012). Bemo adalah singkatan dari "becak motor" dan merupakan kendaraan bermotor roda tiga yang biasanya digunakan sebagai angkutan umum di Indonesia. Bemo mulai dipergunakan di Indonesia pada awal tahun 1962, pertama-tama di Jakarta dalam kaitannya dengan Asian Games 1962 yang adalah Asian Games yang ke-4. Belakangan kehadiran bemo dimaksudkan untuk menggantikan becak. Namun rencana ini tidak berhasil karena kehadiran bemo tidak didukung oleh rencana yang matang. Bemo tidak hanya hadir di Jakarta, melainkan juga di kota-kota lain seperti di Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, Padang, Denpasar, dll. karena kendaraan ini sangat praktis dan mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, dan dapat melaju jauh lebih cepat daripada becak. Bemo yang mulanya beroperasi seperti taksi, belakangan dibatasi daerah operasinya di rute-rute tertentu saja, dan akhirnya disingkirkan ke rute-rute kurus yang tak disentuh oleh bus kota. Di Jakarta, bemo mulai disingkirkan pada 1971, disusul oleh Surabaya dan Malang pada tahun yang sama. Pada 1979, Pemerintah Daerah Surakarta mengambil langkah yang sama. Itu teorinya, tapi pada tempat tertentu seperti Bendungan Hilir, Bemo masih beroperasi. Bagaimana mungkin ? Bukankah pabriknya sudah tutup ? Itu teorinya juga, di Jakarta dan Bogor ada pabrik dan bengkel Bemo. Dan inilah usaha rakyat kecil yang menjalankan teknologi tepat guna....sampai nanti pabriknya di grebek Kementerian perhubungan. Foto: Saat pertama kali Bemo beroperasi tahun 1962 di Jakarta.

Monday, May 21, 2012

Mereka Bicara tentang Hari Kebangkitan Nasional

video
Sumber RRI

Boedi Oetomo dan OSVIA


OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) pada tahun 1908 diragukan apa ikut menyemarakkan lahirnya Boedi Oetomo (BO) dan secara tersirat Kebangunan Nasional ? (selanjutnya sejak tahun 1950 bernama Kebangkitan Nasional). Para pemuda dalam foto adalah para siswa OSVIA Probolinggo. Merekalah selanjutnya setelah lulus merupakan potensi penghubung (schakel) antara tuan-tuan pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat jelata. Kadang memulai karir sebagai juru tulis sampai menjadi Regent (Bupati). Sebenarnya pada tahun 1908 dengan terbentuknya BO mereka bereaksi juga. Atas kekuasaan politik tingkat tinggi dalam Kongres BO Oktober 1908, bahkan Bupati Karanganyar, Tirtokoesoemo menjadi ketua BO, Dr Wahidin hanya jadi wakilnya. Selanjutnya BO menjadi organisasi Priayi. Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Ernest Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air api udara" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya. Tahun ini Museum Kebangkitan Nasional Jakarta memperingati Hari Kebangkitan Nasional fokus pada Indische Partij, sebuah organisasi yang 100 tahun yang lalu tanpa ragu menyatakan "Menuju Kemerdekaan Hindia (atau Indonesia)". Sumber foto: http://id.wikipedia.org/w/index.php?title (OSVIA)_Probolinggo_

Kebangkitan Nasional 2012


Bertempat di Museum Kebangkitan Nasional tanggal, 21 Mei 2012 telah dibuka dengan resmi oleh Direktur Pelestarian  Cagar Budaya dan Museum Kem Dik.Bud, Bapak Surya Helmi, Pameran Sejarah Pergerakan nasional  Nasional  " Satu Abad Indische Partij". Pameran akan berlangsung selama 1 minggu sampai dengan tanggal 27 Mei 2012. Indische Partij didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Ernest François Eugène Douwes Dekker (sering disingkat menjadi E.F.E. Douwes Dekker saja) Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Selain pameran, bulan depan juga akan diselenggarakan Seminar 1 Abad Indische Partij dengan tempat yang sama yaitu Museum Kebangkitan Nasioanal jalan Abdurachman Saleh no.26 Jakarta.

Sunday, May 13, 2012

Peristiwa Perundingan Linggarjati akan diangkat dalam layar lebar

Tiba-tiba foto ini muncul dalam media cetak surat kabar maupun internet, terkait rencana pembuatan film layar lebar oleh produser sekaligus sutradara Kuswara Sastra Permana  tentang perundingan Indonesia-Belanda didesa Linggarjati Kuningan Jawa Barat. Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa yang tersirat dalam foto ? Foto dibuat pada tanggal 12 November 1946 saat rehat siang ketika di Linggarjati sedang berlangsung perundingan Indonesia-Belanda. Tempat pengambilan foto didalam rumah yang kini dikenal sebagai situs rumah Sjahrir di Linggarjati. Gedung ini memang dipergunakan untuk makan siang kedua delegasi yang berunding maupun tamu penting lainnya. Gedung juga merupakan tempat menginap delegasi Indonesia. Saat itu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta diundang oleh ketua delegasi Indonesia Perdana Menteri Sjahrir, untuk terlibat dalam perundingan . Dalam foto hadir, Presiden Soekarno, mantan Perdana Menteri Kerajaan Belanda W.Schermerhorn (ketua delegasi Belanda), Lord Killearn, diplomat penengah perundingan dari Kerajaan Inggris, Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Mook. Justru foto ini (dan sejumlah foto lainnya) amat bermakna untuk difahami masyarakat. Pertama tidak terbayangkan sebelumnya kalau dua bangsa yang sebelum perang adalah penjajah dan dijajah, dapat duduk bersama berunding untuk membicarakan soal penting tentang dekolonisasi di Indonesia. Yang kedua ketika perundingan selesai, saat itulah untuk pertama kali baik Belanda maupun dunia internasional mengakui eksistensi Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Yang ketiga dokumen Linggarjati merupakan dokumen persetujuan pertama yang menjadi dasar dari perundingan selanjutnya yaitu Renville dan KMB. Bagi yang yakin, tidak mungkin jalan penyelesaian dekolonisasi Indonesia tercapai tanpa melalui proses diplomasi dan moderasi. Dua sisi mata uang "diplomasi dan bertempur" dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia sejak lama tidak secara bijak ditempatkan secara berimbang. Mesti selalu non combat procedure dikebelakangkan....Semoga film ini benar-benar berhasil direalisasikan...