Monday, July 29, 2019

Kebijakan Zaman Revolusi.

Setelah perundingan Renville, Amir Sjarifuddin mulai merasionalisasi TNI (Program Re-Ra) dengan memangkas jumlah pasukan. Pada saat itu, tentara reguler terdiri dari 350.000 personel, dan lebih dari 470.00 terdapat di laskar. Dengan adanya program ini, pada tanggal 2 Januari 1948 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.1 Tahun 1948, yang memecah pucuk pimpinan TNI menjadi Staf Umum Angkatan Perang dan Markas Besar Pertempuran. Staf Umum dimasukkan ke dalam Kementerian Pertahanan di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP). Sementara itu, Markas Besar Pertempuran dipimpin oleh seorang Panglima Besar Angkatan Perang Mobil. Pucuk pimpinan TNI dan Staf Gabungan Angkatan Perang beserta seluruh perwira militer dihapus, dan pangkatnya diturunkan satu tingkat. Presiden kemudian mengangkat Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dengan Kolonel T.B. Simatupang sebagai wakilnya. Sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Mobil diangkat Soedirman. Staf Umum Angkatan Perang bertugas sebagai perencana taktik dan siasat serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, sedangkan Staf Markas Besar Angkatan Perang Mobil adalah pelaksana taktis operasional.

Wednesday, July 03, 2019

Ada yang tahu dimana Rumah Sakt Cina di Batavia ? Menurut Alwi Shahab, rumah sakit Cina ini terletak di antara Jalan Tiang Bendera 1 dan Tiang Bendera 5, tidak jauh dari Kali Besar dan Kali Angke, Jakarta Barat. Rumah sakit dibangun oleh masyarakat Cina di Batavia secara gotong royong atas inisiatif Kapiten Cina ke-2, Phoa Beng Gam. Kapiten Phoa seorang tauke kaya raya memiliki tanah perkebunan luas di Tanah Abang  Bersamaan dengan itu, Kapiten Phoa diminta Belanda membangun berbagai gedung di Batavia. Dia memerlukan banyak kuli yang direkrut dari luar Batavia bersama keluarganya. Banyak di antara mereka yang terkena penyakit malaria. Sementara warga Tionghoa juga semakin banyak datang dari daratan Cina ke Batavia. Maka Kapiten Phoa merencanakan membangun sebuah rumah sakit umum yang terletak di kawasan yang berdekatan dengan China Town. Rumah sakit Cina ini sangat lengkap bahkan dikatakan lebih baik dari rumah sakit yang dibangun Belanda yang kemudian pada tahun 1820 yang kemudian ditempati oleh De Javasche Bank, bank milik pemerintah Hindia Belanda yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia pada 1953. Nasib Rumah Sakit Cina ini kemudian buruk sekali karena dibongkar oleh gemeente (dewan kota) Belanda. Karena sejak didirikan CBZ (Centraal Burgerlijk Ziekenhuis yang diresmikan 1919 (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), rumah sakit swasta milik Cina itu dibongkar dengan alasan dililit hutang verpoonding yang sudah berjalan puluhan tahun. Dikemudian hari pembongkaran rumah sakit ini dipersoalkan dr Kwa Tjoan Sioe waktu hendak mendirikan rumah sakit Yang Seng Ie di Jalan Mangga Besar. Menurut sejarawan Tionghoa, Prof James Dananjaya, mungkin pemerintah kolonial Belanda tidak mau disaingi dalam hal pembinaan kesehatan rakyat Batavia.Pada peristiwa pembantaian warga Cina pada Oktober 1740, para pasien di rumah sakit ini dibantai oleh VOC termasuk orang tua, wanita, dan anak-anak. Foto. inilah tepi sungai kali (kali Angke atau Krukut ?) dekat Rumah Sakit Cina dimaksud. 

Friday, May 24, 2019

Rumah Proklamasi


Kalau kita perhatikan Rumah Proklamasi. Sesungguhnya tiang bendera bambu berada persis dekat pot bunga beton  (foto kiri). Dan ini tiang yang  dipakai untuk mengerek bendera sang saka pada 17 Agustus 1945. (Foto kanan) Foto kanan saat Proklamasi sebelum upacara kerek bendera. Tampak Soehoed sudah berdiri disitu ?

Pekan Ikatan Sport Indonesia tahun 1942

Bertempat di lapangan Ikada, pembukaan pekan ISI dilakukan oleh Jenderal Imampura. Bung Karno ikut memberikan semangat.

Friday, October 19, 2018

Bung Karno tahun 60-an

Hari hari panjang belakangan ini, muncul keprihatinan saya pada situasi nasional kita. Tiba tiba saya teringat pada tahun 60-an saat Indonesia berjaya. Saat itu kita berbangga hati dan merasa betapa berartinya berbangsa yang bermartabat .Kita sadar untuk apa kemerdekaan itu dan sanubari terasa tidak jauh dari zaman saat Proklamasi dibacakan. Kehormatan berbangsa itu penting Boeng ! Coba rasakan betapa indahnya lagu kebangsaan Indonesia Raya ini yang dulu diciptakan dan diperdengarkan pada 90 tahun yang lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, oleh WR Soepratman penciptanya. Mari kita berkesadaran seperti demikian

Tuesday, August 29, 2017

BK berobat ke RS Carolus

Irjen Pol (Purn) Drs Sidarto Danusubroto SH yang pernah jadi ajidan Bung Karno 1967=1968  bercerita dalam bukunya, Soekarno tidak pernah diputuskan menjadi tahanan kota bahkan tahanan rumah namun untuk bepergian dari rumahnya di Batu Tulis di Bogor ia harus meminta izin kepada dua Pangdam. Pangdam Siliwangi untuk meninggalkan Bogor dan Pangdam Jaya untuk memasuki wilayah Jakarta dalam rangka berobat ke Rumah Sakit Carolus, misalnya. Lebih parah lagi, sesudahnya harus menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso. Dalam video kemungkinan terkait peristiwanya pada tahun 1968 ? 

Monday, July 24, 2017

Jalan Pegangsaan Timur 56 dimana ?

Waktu gubernurn DKI, Ahok dan wakilnya Djarot Saiful Hidayat muncul berita wacana yang santer bahwa jalan Proklamasi akan berubah namanya kembali menjadi jalan Pegangsaan Timur. Seperti tertulis dalam sejarah, jalan ini terkenal dan ada dibenak setiap Bangsa Indonesia semua bahwa Proklamasi terjadi pada Tanggal 17 Agustus 1945 pada rumah Bung Karno yaitu gedung di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Dizaman Orde Baru berubah menjadi jalan Proklamasi. Saya pernah ikut dalam Komite Pembangunan Kembali Rumah Proklamsi sejak tahun 90-an. Tujuannya untuk membangun kembali rumah bersejarah tersebut. Tapi rupanya semua Presiden tidak setuju dengan alasannya masing-masing. Dalam video tahun 2015 diatas, Wakil Gubernur Djarot sendiri pernah berpidato soal itu, tapi semua rupanya tinggal rencana ? Sekali lagi rupanya banyak yang tidak setuju. Bagaimana kalau nanti DKI dipimpin Anies-Sandi ? Rasanya jadi lebih tidak mungkin karena ini merupakan ide kebijakan Gubernur lama. Buat apa direalisasikan ? Saya berfikiran, nanti pada tahun 2020 dan selanjutnya tidak ada lagi kewajiban kita mengingat apa, bagaimana oleh siapa serta apa tujuannya Kemerdekaan Indonesia itu. Kita lalai dan akan selalu lalai ?  

Wednesday, July 19, 2017

Bung Hatta Mengundurkan Diri

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus tahun 1956 merupakan saat terahir Dwitunggal Soekarno-Hatta eksis sebagai ikon persatuan  sejak tahun 1945. Pada tanggal 20 Juli 1956, Mohammad Hatta menulis sepucuk surat kepada Ketua DPR pada saat itu, Sartono yang isinya antara lain, "Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi." DPR menolak secara halus permintaan Mohammad Hatta tersebut, dengan cara mendiamkan surat tersebut. Kemudian, pada tanggal 23 November 1956, Bung Hatta menulis surat susulan yang isinya sama, bahwa tanggal 1 Desember 1956, dia akan berhenti sebagai Wakil Presiden RI. Akhirnya, pada sidang DPR pada 30 November 1956, DPR akhirnya menyetujui permintaan Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden, jabatan yang telah dipegangnya selama 11 tahun.

Sunday, July 09, 2017

Demo ke DPRGR Senayan

Tahun 1966, mahasiswa UI pernah demo ke DPRGR di Senayan. Perlu diketahui sebelum kompleks MPR-DPR rampung, lembaga pemerintah parlemen ini berada di kompleks dekat TVRI sekarang.

Sunday, May 14, 2017

Nawaksara

Nawaksara adalah sebuah judul pidato yang dilakukan Sukarno pada tanggal 22 Juni 1966 dalam Sidang Umum ke-IV MPRS. Saat itu beliau berkata: "Sembilan di dalam bahasa Sanskerta adalah "Nawa". Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, enam-yam, tujuh-sapta, delapan-hasta, sembilan-nawa, sepuluh-dasa. Jadi saya mau beri nama dengan perkataan "Nawa". "Nawa" apa? Ya, karena saya tulis, saya mau beri nama "NAWA AKSARA", dus "NAWA iAKSARA" atau kalau mau disingkatkan "NAWAKSARA". Tadinya ada orang yang mengusulkan diberi nama "Sembilan Ucapan Presiden". "NAWA SABDA". Nanti kalau saya kasih nama Nawa Sabda, ada saja yang salah-salah berkata: "Uh, uh, Presiden bersabda". Sabda itu seperti raja bersabda. Tidak, saya tidak mau memakai perkataan "sabda" itu, saya mau memakai perkataan "Aksara"; bukan dalam arti tulisan, jadi ada aksara latin, ada aksara Belanda dan sebagainya. NAWA AKSARA atau NAWAKSARA, itu judul yang saya berikan kepada pidato ini. Saya minta wartawan-wartawan mengumumkan hal ini, bahwa pidato Presiden dinamakan oleh Presiden NAWAKSARA." Pidato ini disampaikan oleh Presiden Soekarno sebagai pertanggungjawabannya atas sikapnya dalam menghadapi Gerakan 30 September. Soekarno sendiri menolak menyebut gerakan itu dengan nama tersebut. Menurutnya Gerakan itu terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, dan karena itu ia menyebutnya sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober). Pidato pertanggungjawaban Soekarno ini ditolak oleh MPRS, dan sebaliknya MPRS memutuskan untuk memberhentikannya dari jabatannya sebagai presiden seumur hidup, dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Terlampir suasana saat itu dan sedikit pidato yang jadi bagiannya.

Friday, May 12, 2017

Tanggal 19 Mei 1998, Soeharto berubah strategi

Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit) itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur. Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden. Namun hal itu tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjukrasa semakin banyak. Sementara itu Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.