Monday, July 24, 2017

Jalan Pegangsaan Timur 56 dimana ?

video
Waktu gubernurn DKI, Ahok dan wakilnya Djarot Saiful Hidayat muncul berita wacana yang santer bahwa jalan Proklamasi akan berubah namanya kembali menjadi jalan Pegangsaan Timur. Seperti tertulis dalam sejarah, jalan ini terkenal dan ada dibenak setiap Bangsa Indonesia semua bahwa Proklamasi terjadi pada Tanggal 17 Agustus 1945 pada rumah Bung Karno yaitu gedung di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Dizaman Orde Baru berubah menjadi jalan Proklamasi. Saya pernah ikut dalam Komite Pembangunan Kembali Rumah Proklamsi sejak tahun 90-an. Tujuannya untuk membangun kembali rumah bersejarah tersebut. Tapi rupanya semua Presiden tidak setuju dengan alasannya masing-masing. Dalam video tahun 2015 diatas, Wakil Gubernur Djarot sendiri pernah berpidato soal itu, tapi semua rupanya tinggal rencana ? Sekali lagi rupanya banyak yang tidak setuju. Bagaimana kalau nanti DKI dipimpin Anies-Sandi ? Rasanya jadi lebih tidak mungkin karena ini merupakan ide kebijakan Gubernur lama. Buat apa direalisasikan ? Saya berfikiran, nanti pada tahun 2020 dan selanjutnya tidak ada lagi kewajiban kita mengingat apa, bagaimana oleh siapa serta apa tujuannya Kemerdekaan Indonesia itu. Kita lalai dan akan selalu lalai ?  

Wednesday, July 19, 2017

Bung Hatta Mengundurkan Diri

video
Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus tahun 1956 merupakan saat terahir Dwitunggal Soekarno-Hatta eksis sebagai ikon persatuan  sejak tahun 1945. Pada tanggal 20 Juli 1956, Mohammad Hatta menulis sepucuk surat kepada Ketua DPR pada saat itu, Sartono yang isinya antara lain, "Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi." DPR menolak secara halus permintaan Mohammad Hatta tersebut, dengan cara mendiamkan surat tersebut. Kemudian, pada tanggal 23 November 1956, Bung Hatta menulis surat susulan yang isinya sama, bahwa tanggal 1 Desember 1956, dia akan berhenti sebagai Wakil Presiden RI. Akhirnya, pada sidang DPR pada 30 November 1956, DPR akhirnya menyetujui permintaan Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden, jabatan yang telah dipegangnya selama 11 tahun.

Sunday, July 09, 2017

Demo ke DPRGR Senayan

video
Tahun 1966, mahasiswa UI pernah demo ke DPRGR di Senayan. Perlu diketahui sebelum kompleks MPR-DPR rampung, lembaga pemerintah parlemen ini berada di kompleks dekat TVRI sekarang.

Sunday, May 14, 2017

Nawaksara

video
Nawaksara adalah sebuah judul pidato yang dilakukan Sukarno pada tanggal 22 Juni 1966 dalam Sidang Umum ke-IV MPRS. Saat itu beliau berkata: "Sembilan di dalam bahasa Sanskerta adalah "Nawa". Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, enam-yam, tujuh-sapta, delapan-hasta, sembilan-nawa, sepuluh-dasa. Jadi saya mau beri nama dengan perkataan "Nawa". "Nawa" apa? Ya, karena saya tulis, saya mau beri nama "NAWA AKSARA", dus "NAWA iAKSARA" atau kalau mau disingkatkan "NAWAKSARA". Tadinya ada orang yang mengusulkan diberi nama "Sembilan Ucapan Presiden". "NAWA SABDA". Nanti kalau saya kasih nama Nawa Sabda, ada saja yang salah-salah berkata: "Uh, uh, Presiden bersabda". Sabda itu seperti raja bersabda. Tidak, saya tidak mau memakai perkataan "sabda" itu, saya mau memakai perkataan "Aksara"; bukan dalam arti tulisan, jadi ada aksara latin, ada aksara Belanda dan sebagainya. NAWA AKSARA atau NAWAKSARA, itu judul yang saya berikan kepada pidato ini. Saya minta wartawan-wartawan mengumumkan hal ini, bahwa pidato Presiden dinamakan oleh Presiden NAWAKSARA." Pidato ini disampaikan oleh Presiden Soekarno sebagai pertanggungjawabannya atas sikapnya dalam menghadapi Gerakan 30 September. Soekarno sendiri menolak menyebut gerakan itu dengan nama tersebut. Menurutnya Gerakan itu terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, dan karena itu ia menyebutnya sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober). Pidato pertanggungjawaban Soekarno ini ditolak oleh MPRS, dan sebaliknya MPRS memutuskan untuk memberhentikannya dari jabatannya sebagai presiden seumur hidup, dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Terlampir suasana saat itu dan sedikit pidato yang jadi bagiannya.

Friday, May 12, 2017

Tanggal 19 Mei 1998, Soeharto berubah strategi

video
Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit) itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur. Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden. Namun hal itu tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjukrasa semakin banyak. Sementara itu Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Saturday, May 06, 2017

Friday, May 05, 2017

Luna Park

video
Sebuah kenangan acara Pasar Malam di daerah Princen Park sehabis perang.

Wednesday, April 26, 2017

Kota tua, banyak bangunan yang sudah tiada.

video
Kota tua yang kita kenal sekarang bisa dikatakan kartu permainan yang tidak lengkap lagi. Kadung begitu, untuk tujuan berbeda dilengkapi dengan bangunan baru yang pura-pura tua ? Tapi tak mengapa biar turis yang datang bisa percaya bukan ? Bahan visual yang begitu banyak, kenapa tidak menjadi kelengkapan dan secara jujur dikatakan mana yang masih dan mana yang sudah hilang. Coloniual Heritage (Share Heritage) pentingkah kita lestarikan ? Tentu saja, paling tidak menggambarkan dimana kedudukan sosial kaum pribumi. Itu pelajaran bukan ?

Tuesday, February 28, 2017

1 Maret 1942 Jakarta sebagai kota terbuka

video
Tanggal 1 Maret 1942, Jakarta sebagai kota terbuka (open city). Jepang telah mendarat di tiga tempat yaitu Banten, Indramayu, dan Rembang. Rakyat Jakartapun menyambutnya. 

Sunday, November 13, 2016

Stasiun Tanjung Priuk dulu dan sekarang

video
Tadi pagi, Sahabat Museum dan PT KAI (Kereta Api Indonesia) mengadakan kunjungan dan membuat acara "Pesta Peron" berupa bedah bfoto dan pemutaran film. Tampak dalam film Stasiun Tanjung Priuk dulu dan sekarang.

Sunday, September 04, 2016

Keluarga Pengerek Bendera Saat Proklamasi: Ilyas Karim Tak Terlibat Pengibaran.

Keluarga pengerek bendera saat proklamasi, Latief Hendraningrat dan Suhud Sastro Kusumo, meluruskan informasi tentang Ilyas Karim. Ilyas yang mengaku bercelana pendek pada foto legendaris pengerekan bendera saat proklamasi kemerdekaan, dikatakan keluarga Latief dan Suhud, tak terlibat. "Dalam foto di Museum Juang, tertulis nama pengibar bendera adalah Kolonel Latief dan Suhud. Itu institusi yang resmi yang mengeluarkannya. Cek saja di sana," demikian kata Irawan Suhud, putera kelima Suhud Sastro Kusumo. Irawan Suhud mengatakan hal itu di Caffe Bene, Lotte Shopping Avenue, Jl Prof Dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (3/9/2016). Irawan saat itu didampingi Citro Seno Hendraningrat, putra ketiga Kolonel Abdul Latief Hendraningrat, serta Nidjo Sandjojo, menantu Latief Hendraningrat yang juga penulis buku "Abdul Latief Hendradiningrat, Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945". Irawan melanjutkan, dia pernah mendengarkan cerita ayahnya saat menjadi pengibar bendera pada 17 Agustus 1945. "Ayah saya pernah cerita, ayah saya memang tidak ingin diekspos. Beberapa kali dia meminta bercerita oleh orang lain atau media, tapi tidak mau. 'Saya (Suhud) di situ karena kebetulan saya di situ. Jadi siapa saja sebenarnya bisa. Pak Sudiro yang minta. Dia mempersiapkan bambunya dan segala macam'," lanjut Irawan menirukan sebagian cerita ayahnya. Irawan juga mengetahui kiprah ayahnya itu dari rekaman wawancaranya dengan RRI tahun 1995, setelah ayahnya meninggal tahun 1986. Saat itu, Irawan mengetahui ayahnya mengibarkan bendera saat proklamasi berusia 25 tahun, karena lahirnya diketahui tahun 1920. Sedangkan Nidjo, menantu Latief yang juga penulis buku ayah menantunya sebagai pengibar bendera pusaka mengatakan, Ilyas Karim mulai muncul dan mengaku sebagai pengibar bendera pusaka saat Proklamasi, pada tahun 2008 lalu. "Saya mengecek di Kemenhan, sampai saya cek di Dinas Sejarah TNI AD. Lihat dari umur, umur Ilyas 89, mengaku mengibarkan bendera saat 18 tahun. Semua anggota TNI punya NRP (Nomor Registrasi Pokok). Semua pensiunan dibayar oleh Asabri (Asuransi ABRI). Kalau dia dapat tunjangan, tunjangan dari mana? Kalau dari Asabri, nggak ada namanya," jelas Nidjo. Nidjo menambahkan dirinya juga alumni tentara tahun 1976 dan masih memiliki data pensiunan ABRI saat itu. "Saya dulu kerja di Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kemhan, yang mengelola data tentang pertahanan, termasuk yang mengurusi data pensiun. Saya punya data Pak Ilyas Karim," jelasnya. Data pensiunan ABRI yang dipaparkan Ilyas Karim, menurut Nidjo, adalah punya orang lain. "Ilyas Karim pensiun nomor ini, punya nomor orang Lain. Sebenarnya itu miliknya orang lain. Itu diragukan kalau dia mengaku letkol, di Senen juga bisa beli seragam. NRP yang dipakai Pak Ilyas Karim itu 13685. Itu sebenarnya NRP Letda Sjair," ungkapnya. Nidjo menambahkan, Latief pernah menuliskan pengalaman pribadinya sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ayah menantunya itu menuliskan nama Suhud. "Ketika Bung Karno selesai membacakan Proklamasi, tiba-tiba seorang pemuda dan seseorang pemudi datang berbaris kedepannya. Sang pemudi membawa baki berisikan sang dwi warna yang dilipat dengan rapih. Sang pemuda kami kenal bernama Suhud, sang pemudi tidak saya kenal," kata Nidjo menuturkan tulisan Latief. Irawan Suhud kembali menambahkan, keluarganya dan keluarga Latief tidak masalah bila Ilyas Karim mengaku pejuang, namun keberatan bila mengaku pengibar bendera. "Yang mengibarkan bendera ini adalah ayah kami. Kami nggak masalah kalau dia mengaku pejuang. Tapi keberatan kalau mengaku pengibar bendera," tuturnya. Suhud, ditambahkan Irawan bukan dari satuan Pembela Tanah Air (Peta) namun dari Barisan Pelopor. Pihaknya berkeberatan atas pengakuan Ilyas Karim, terlebih bila pengakuan itu dilakukan untuk mendapatkan sejumlah keuntungan. "Barisan Pelopor itu pengawal soekarno. Ilyas Karim mengatasnamakan orangtua kami, entah untuk apa, maka kami akan meluruskan. Kalau akhirnya ada untuk keuntungan, kami keberatan. Kan ada yang nggak tahu muka ayah saya. Kami keberatan kalau (Ilyas Karim) mengatasnamakan pengibar bendera," tandas dia. Sumber tulisan Detik.com.Arief Ikhsanudin - detikNews