Monday, April 22, 2013

Panitia urusan sipil Indonesia-Belanda di Palembang

Perwira TRI yang dimaksud adalah Let.Kol Daan Jahja. Awalnya dirinya adalah mahasiswa Kedokteran Ika Daigaku yang dikeluarkan karena melalwan instruksi penggundulan oleh Jepang. Atas usul dari H.Agus Salim diterima dalam pendidikan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air. Selanjutnya berkarir di tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI) terakhir di TNI. Sempat menjadi Gubernur Militer Jakarta dengan pangkat Let.Kol....ucu juga ya Dr M.Jamil dan Mr Amir Sjarifoedin berpakaian ala pasukan gerilya. Sementara Let.Kol Daan Jahja berpakaian sipil seperti PNS....Namanya juga zaman Revolusi...

Sunday, April 21, 2013

Destrukturisasi sejarah Kartini...kapan ?

Kapan kita melakukan destrukturisasi sejarah Kartini ? Rasanya tidak ada minat kesana ya ? Dalam wujud alam pikir kita, Kartini itu mulia, terhormat, berjasa, membela kaumnya dan perintis kemerdekaan bangsanya yang revolusioner...? Mungkin Kartini kurang senang pada pencitraan itu. Dia lebih senang kalau Belanda dan Indonesia bisa mewujudkancita-citanya yang mungkin yang lebih pasti adalah sebuah konsep emansipasi ? Bukan hanya emansipasi yang dangkal seperti berbicara soal gender tok. Tapi yang lebih luas. Kartini mewakili suku Jawa dalam arti yang sebenar-benarnya. Orang Belanda meghargai kaum priayi Jawa ini...merekalah yang mendapat kesempatan untuk mengatur pemerintahan dalam negeri dalam bayang-bayang payung kolonial yang sudah desentralistik itu. Kala itu pada akhir abad ke 19 kalau mau jujur adalah terjadinya perubahan tatanan sosial yang paling menguntungkan kelompok feodal. Bahasa Belandanya "schakel van" Bergantung pada....ya kekuasaan feodal pribumi itu. Belanda berterima kasih kepada mereka. Kartini tidak mungkin melawan kekuasaan ayahnya maupun suaminya Raden Adipati Joyodiningrat. Justru harus dicari jalan bagaimana menyatukan kepentingan Belanda dan Hindia dalam arti kata sebenar-benarnya. Itulah sebabnya bayang-bayang Abendanon dan Deventer amat melekat pada cerita kisah sang Raden Ajeng dari Jepara ini. Haramkah pemikiran ini bisa terjadi ? Juga tidak karena ini zaman perubahan zaman Politik Etis. Kita tidak bisa membawa semangat Revolusi Kemerdekaan kezaman itu. Itu justru yang haram yang mestinya karena pakemnya beda. Ada yang mau menanggapi ? Mungkin banyak yang tertarik barangkali ? Foto: Pencitraan Sjuman Djaya sosok Kartini dalam filmnya yang diperankan oleh Yeni Rachman dan Bambang Hermanto....Masih jauh bukan ? Kalau saja benar Kartini menderita dan bersedia mengakhiri cita-citanya maka dia lahir terlalu cepat.

Monday, April 08, 2013

Margaret Thatcher telah tiada

Margaret Thatcher lebih dikenal sebagai "Wanita besi" meninggal Senin karena stroke pada usia 87 tahun. Untuk ini pemerintah Inggris mengumumkan bahwa mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher akan menerima upacara pemakaman kenegaraan dengan kehormatan militer.. Perdana Menteri David Cameron memutuskan menunda perjalanannya ke Spanyol dan Perancis setelah mendengar berita menyedihkan ini. Kantor Perdana Menteri di Downing Street mengatakan Ratu Elizabeth II memiliki wewenang menetapkan upacara pemakaman kenegaraan bagi Margaret Thatcher yang akan diselenggarakan di St Paul's Cathedral London. Dikatakan pemakaman akan dihadiri oleh pejabat tinggi negara dan masyarakat Inggris. Pelayanan pemakaman juga diikuti oleh kremasi pribadi. Hal itu tidak diperinci lebih lanjut, hanya mengatakan bahwa keputusan yang diambil itu adalah "sesuai dengan keinginan" Thatcher dan keluarga. Foto: Margaret Thatcher saat Perdana Menteri Inggris 

Wednesday, April 03, 2013

Dr Jacob Bernadus Sitanala

Dr Jacob Bernadus Sitanala Pahlawan dan Tokoh Nasional Asal Maluku. JACOB Bernadus Sitanala dilahirkan dalam suatu keluarga pengusaha kecil pada 18 September 1889 di Kayeli, Pulau Buru. Ia keturunan keluarga besar Sitanala dari Desa Suli di Pulau Ambon.  Setelah menamatkan pendidikan dasar pada “Ambonsche Burger School” di Ambon dan pendidikan menengah MULO pada 1904, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedokteran yaitu “STOVA” di Jakarta. Pada tahun 1912 Sitanala berhasil memperoleh ijasah dokter dan ditempatkan di berbagai tempat di Indonesia. Karena prestasinya yang tinggi dalam tugas pelayanan kedokteran dan penelitian ilmiah, ia mendapat tugas belajar ke Negeri Belanda tahun 1923 dan mendalami ilmu Penyakit Kusta (Lepra).  Pada tahun 1926 berhasil memperoleh diploma “Nederlandsche Arts” dan pada tahun 1927 mendapat gelar doctor dan guru besar dalam Ilmu Penyakit Kusta. Setelah kembali ke Indonesia dan bertugas sebagai ahli Penyakit Kusta, Dr Sitanala diangkat sebagai Kepala Pemberantasan Penyakit Kusta di Indonesia. Dr Sitanala adalah ahli Penyakit Kusta yang bertama di Indonesia. Sebagai perintis pemberantasan Penyakit Kusta, ia dikenal pula di dunia Internasional karena karya-karya ilmiah hasil penelitian dan metode baru pengobatan Penyakit Kusta yang ia kembangkan. Untuk itu, raja Kerajaan Swedia berkenan memberikan bintang kehormatan tertinggi “Wasa Orde” yang setaraf dengan “Nobelprijs” (hadiah nobel) kepadanya dan juga sebuah bintang jasa dari perkumpulan sarjana-sarjana internasional dalam bidang kesehatan. Ia terkenal pula sebagai pejuang dan perintis kemerdekaan Indonesia. Selama studi di Negeri Belanda, menjabat Wakil Ketua Perhimpunan Indonesia, sangat aktif dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta menjadi penasehat dari organisasi politik Sarekat Ambon. Perasaan nasionalismenya sangat tinggi dan terlihat dalam usaha-usaha untuk membela rakyat kecil yang diperlakukan tidak manusiawi dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan juga menentang ras diskriminasi di kalangan profesi kedokteran. Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Palang Merah Indonesia (PMI). Setelah bertugas ke Ambon pada tahun 1947, masih tetap mengabdi sepanjang hayatnya. Beliau meninggal dunia pada 30 Agustus 1958 dan oleh Pemerintah RI dihargai sebagai “Perintis Kemerdekaan” dan tokoh nasional yang besar. (Sumber: BPNB Ambon). Foto: np. 3 dari kiri adalah JB Sitanala saat ikut ekspedisi di Irian Jaya pada tahun 1912-1913.

Dokter Willem Karel (Wim) Tehupeiory

Pada musim semi tahun 2001 seorang wartawan Belanda keturunan Maluku, Herman Keppy menemukan sebuah koper dengan tumpukan penuh dokumen pada sebuah kamar di sebuah desa di Alkmaar negeri Belanda. Koper ini juga berisi foto-foto dan dokumen pribadi dari Wim Tehupeiory (1883-1946),yang bertugas sebagai dokter pribumi pada tahun 20-an di Hindia Belanda. Bahan-bahan dokumen ini sungguh amat berguna dalam rangka kerja Keppy menulis novelnya yang berjudul Antara Ambon dan Amsterdam (Tussen Ambon en Amsterdam). Buku ini diterbitkan pada tahun 2004. Setelah itu semua dokumen di kirimnya kepada IISH (International Institute of Social History) di Belanda. Bahan dokumen ini terdiri dari sebanyak 250 surat pribadi, surat-surat yang kaitannya dengan profesi kedokteran (tahun 1883-1946) dan sejumlah bahan-bahan lainnya, termasuk laporan bulanan tentang Rumah Sakit pemerintah di Blinjoe di pulau Bangka (dari tahun 1910-1915), juga dokumen dari Vereeniging Ambonsch Studiefonds (1914-1921) serta sejumlah koleksi foto.
Dokter Maluku Willem Karel (Wim dari Empie) Tehupeiory lahir pada tahun 1883 di Ema pulau Ambon Hindia Belanda. Setelah menamatkan sekolah umum, bersama kakak laki-lakinya Johannes Everhardus (Nannie) pergi ke Batavia untuk sekolah di STOVIA. Keduanya lulus pada tahun 1902. Perlu diketahui Stovia memang dalam proses yang secara resmi terbentuk pada tahun 1902. Setelah itu Wim Tehupeiory yang masih berumur 19 tahun bekerja sebagai dokter pribumi di sebuah penjara di Medan. Kemudian di perkebunan Deli guna memberikan pelayanan kesehatan bagi buruh kebun orang Jawa dan Cina. Pada tahun 1907 kakak beradik Tehupeiory ini bersama saudara perempuannya Leentje Jacomina yang belajar ilmu farmasi berangkat ke Belanda guna melanjutkan studinya di Universitas Amsterdam. Tahun 1908 rampunglah sudah pendidikan mereka dan diizinkan menyandang gelar Arts. Beberapa saat setelah lulus, tiba-tiba Johannes Everhardus meninggal secara mendadak dalam umur 26 tahun pada sebah kejadian fatal yang tidak diperkirakan.
Dalam karirnya sebagai Arts asal Indonesia, Wim Tehupeiory memberikan kursus bagi dokter-dokter pribumi yang dibayar murah di Belanda dalam lembaga Indisch Genootschap in Leiden yang juga merupakan gerakan politik etis saat itu dipimpin oleh C. Th. van Deventer dan J. H. Abendanon. Saat bersekolah di Belanda sempat pula dibangunnya perkumpulan dokter pribumi di Belanda . Pada bulan Juli tahun 1909 Wim menikah dengan Anna Ommering seorang wanita Belanda yang dikaruniai 2 anak , Pada tahun yang sama saat kembali ke Indonesia, Wim mendirikan lembaga beasiswa Ambon (Ambonsch Studiefonds) yang maksudnya guna mendukung beaya bagi pendidikan orang Indonesia di negeri Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, Wim bekerja di pulau Bangka pada perusahaan pertambangan timah (1910-1916). Pada bulan Juli 1916 keluarga Wim kembali ke Belanda. Dan saat itu dia menjadi anggota dari lembaga budaya perkumpulan MUDATO guna meningkatkan minat masyarakat Ambon dalam pendidikan. Perlu diketahui pula dalam kongres pendidikan kolonial di Den Haag pada tahun 1919 disetujui akan berdirinya Universitas di Hindia Belanda termasuk berdirinya fakultas Kedokteran sebagai perkembangan STOVIA. Pada tahun 1922 karena kesulitan keuangan Tehupeiory harus kembali ke Indonesia tanpa ikut sertanya keluarganya. Dalam situasi ini dia bekerja sebagai dokter di kapal cargo bernama SS Rondo, yang bertugas mengangkut jamaah haji ke Mekah melalui pelabuhan Jedah. Setelah berhenti, dia melakukan praktek umum di Batavia . Disampin kegiatan tersebut sempat pula dirinya aktif dalam organisasi nasional Sarekat Ambon dan tentu saja dalam lembaga beasiswa bagi orang Maluku. Selain itu dia juga anggota komisi supervise sekolahnya terdahulu yaitu STOVIA. Pada tahun 1928, Wim merupakan salah seorang pendiri Perhimpunan Politik Maluku (Molukus Politiek Verbond). Seorang yang memilik pribadi menarik dokter Willem Karel (Wim) Tehupeiory meninggal dunia setelah Indonesia Merdeka di Jakarta pada tahun 1946 dengan tenang. (diterjemahkan bebas dari bahan internet padahttp://www.iisg.nl/collections/tehupeiory/).....Foto: Wim dengan keluarga di Batavia...

Thursday, March 07, 2013

Rumah Proklamasi Pegangsaan Timur 56 Jakarta harus segera dibangun kembali.

Pembangunan kembali Rumah Proklamasi seyogyanya tidak ditunda lagi. Hal ini sebuah methode yang pasti agar persatuan bisa diwujudkan. Bangsa Indonesia lupa asal usulnya, padahal itu semua jelas dalam sejarah. Yang telah terjadi adalah "Proses Lupa sejarah"......Marilah bergabung dengan "Komite Pembangunan Kembali Rumah Proklamasi"......Hadidjojo Nitimihardjo

Walter Spies Seniman Jerman yang Gay

Walter Spies (lahir di Moskwa, 15 September 1895 – meninggal di Samudera Hindia, 19 Januari 1942 pada umur 46 tahun) merupakan pelukis, perupa, dan juga pemusik. Ia adalah tokoh di belakang modernisasi seni di Jawa dan Bali. Spies lahir sebagai anak seorang peniaga kaya Jerman yang telah lama menetap di Moskwa. Semenjak muda ia telah menggemari seni musik, seni lukis, dan seni rupa. Ia mengenal Rachmaninov dan mengagumi Gauguin. Selepas Perang Dunia I, Spies sempat tinggal beberapa lama di Jerman (di Berlin) dan berteman dengan sutradara ternama masa itu, Friedrich Murnau. Kelak, Murnau-lah yang banyak membantu Spies secara finansial di perantauan. Di Jerman ia sudah cukup ternama karena lukisan-lukisannya, namun ia merasa tidak kerasan karena sebagai homoseksual ia selalu dicari-cari polisi. Pada tahun 1923 ia datang ke Jawa dan menetap pertama kali di Yogyakarta. Dia dipekerjakan oleh sultan Yogya sebagai pianis istana dan diminta membantu kegiatan seni keraton. Spies-lah yang pertama kali memperkenalkan notasi angka bagi gamelan di keraton Yogyakarta. Notasi ini kemudian dikembangkan di kraton-kraton lain dan digunakan hingga sekarang. Setelah kontraknya selesai, ia lalu pindah ke Ubud, Bali, pada tahun 1927. Di sinilah ia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga menjelang kematiannya. Di bawah perlindungan raja Ubud masa itu, Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan apa yang dikenal sebagai gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak. Sering kali dikatakan bahwa ia adalah orang yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Ia memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang ternama di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu. Di bulan Desember 1938 Spies sempat dipenjara karena dituduh homoseksual. Ia baru dibebaskan karena bantuan beberapa temannya, di antaranya Margaret Mead, pada September 1939. Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib buruk. Sebagai orang Jerman, ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Ia meninggal 19 Januari 1942 karena tenggelam bersama-sama dengan kapal 'Van Imhoff' yang ditumpanginya. Kapal dengan 477 tawanan dan 110 awak kapal itu tidak mempunyai ciri-ciri yang khas yang menandai bahwa kapal itu kapal yang membawa tahanan perang, sehingga diserang oleh armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di perairan barat Sumatera Utara. Kapal yang seharusnya berlayar ke Srilanka itu mengangkut orang-orang Jerman yang diusir dari Hindia Belanda akibat serangan Jerman ke Belanda. Foto: capture dari film Walter Spies dengan seorang pemuda Bali sedang bercengkarama berenang

Sunday, February 24, 2013

Konferensi Malino

Dalam kerangka SEAC (South East Asia command) setelah Perang Dunia II, sekutu menyerahkan kembali wilayah Indonesia timur kepada Belanda pada tanggal 15 Juli 1946. Dengan demikian pemerintah Belanda dalam hal ini organisasi Netherlands Indie Civil Administration (NICA) mendapatkan kembali wilayah Indonesia timur secara de jure dan de facto. Segera setelah penyerahan ini, pemerintahan NICA dipimpin oleh Letnan Gubernur Jendral Van Mook menyelenggarakan Konferensi Malino pada tanggal 15 Juli - 25 Juli 1946 [1] di Kota kecil Malino, Sulawesi Selatan. Konferensi ini dihadiri oleh 39 orang dari 15 daerah dari Kalimantan (Borneo) dan Timur Besar (De Groote Oost) dengan tujuan membahas rencana pembentukan negara-negara bagian yang berbentuk federasi di Indonesia serta rencana pembentukan negara yang meliputi daerah-daerah di Indonesia bagian Timur. Dalam konferensi yang dipimpin Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook tersebut dibentuk Komisariat Umum Pemerintah (Algemeene Regeerings commissaris) untuk Kalimantan dan Timur Besar yang dikepalai Dr. W. Hoven. Diangkat pula menjadi anggota luar biasa Dewan Kepala-kepala Departemen (Raad van Departement shooden) untuk urusan kenegaraan adalah Sukawati (Bali), Najamuddin (Sulawesi Selatan), Dengah (Minahasa), Tahya (Maluku Selatan), Dr. Liem Tjae Le (Bangka, Belitung, Riau), Ibrahim Sedar (Kalimantan Selatan) dan Oeray Saleh (Kalimantan Barat), yang disebut pula "Komisi Tujuh". Peraturan pembentukan negara-negara bagian diputuskan dalam konferensi berikutnya di Denpasar, Bali. Sebelum itu akan dilangsungkan konferensi dengan wakil golongan minoritas di Pangkal Pinang, Pulau Bangka. Foto: Konferensi Malino. Sumber: Wikipedia

Thursday, January 17, 2013

Ibu Mien telah tiada


Mien Soedarpo Berpulang
TEMPO.CO, Jakarta - Minarsih Soedarpo Sastrosatomo berpulang pada jam 20.55 WIB, di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, dalam usia 89 tahun. “Ya, ibu saya baru saja meninggal,” ujar Santi Soedarpo, putrinya, kepada Tempo via telpon. Mien Soedarpo —begitu Minarsih biasa disebut- lahir di Bandung, 25 Januari 1924—adalah seorang tokoh aktivis wanita Indonesia. Dia putri Syarifah Nawawi, seorang tokoh pendidikan berdarah Minangkabau dengan Wiranatakusumah, seorang bangsawan Sunda yang pernah menjabat Bupati Cianjur, Jawa Barat dan anggota Dewan Pertimbangan Agung. Suami Mien, Soedarpo Sastrosatomo adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pengusaha nasional. Soedarpo juga banyak dikenal sebagai juru runding yang banyak berperan membantu perjuangan diplomasi Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan. Belakangan dia dikenal sebagai salah satu konglomerat Indonesia yang membangun perusahaan pelayaran raksasa Samudera Grup. Sebagai seorang aktivis wanita, Mien Soedarpo pernah menjadi Ketua Women''s International Club pada 1978-1980 dan pada 1988-1990. Ibu tiga putri ini masih sangat aktif dalam kegiatan sosial dan masih giat berolahraga hingga usia sepuh. “Ibu saya sempat mengatakan tak ingin meninggal sebelum ulang tahunnya (25 Januari),” Santi menambahkan. Jenasah dibaringkan di kediaman almarhumah di Jalan Pegangsaan Barat, Jakarta Pusat. Mien Sudarpo menjadi narasumber utama dari beberapa laporan khusus Tempo mengenai sejarah politik, antara lain pada laporan khusus Sjahrir dan Tan Malaka.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Saya mengenal Ibu Minarsih karena cukup kenal baik dengan Pak Soedarpo, tapi juga karena suami istri ini sebelum menikah adalah mahasiswa Ika daigaku yaitu sekolah kedokteran dizaman Jepang yang gedungnya sama dengan gedung FKUI sekarang di jalan Salemba no.6. Kalau Pak Soedarpo adalah jurusan Kedokterannya, maka Ibu Mien jurusan Farmasi. Keduanya tidak dapat menyelesaikan pendidikannya karena dilanda arus Revolusi. Kebetulan pada awal tahun 2000, atas kesepakatan semua pihak saya diangkat sebagai ketua Yayasan Prapatan 10 dan Sdr Ervan Ibrahim sebagai sekretaris. 

Sebagai nara sumber Tempo juga kami pernah sama-sama khususnya saat penerbitan khusus TEMPO mengenai Sutan Sjahrir (saat 100 th Sjahrir). Kala itu bersama Des Alwi dan Pak Rosihan Anwar. Semua terabadikan pada TEMPO penerbitan khusus tersebut... Juga mengenai Tan Malaka menjadi menarik karena Ibu dari Ibu Mien sebelum menikah yaitu Syarifah Nawawi pernah diberitakan akan menikah dengan Tan Malaka.....

Friday, December 07, 2012

Mobil Bung Karno pada tahun 1945


Ada sebuah mobil buatan tahun 1939 bermerk “Buick 2 Phaetons”. Mobil ini teronggok di Museum Gedung Juang Menteng 31. Banyak cerita soal mobil ini. Yang menarik katanya: Alkisah, sesudah Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sebagai negara yang baru membebaskan diri dari penjajahan, jelas pemerintah RI tidak memiliki apa-apa, kecuali semangat merdeka. Gedung-gedung masih dikuasai tentara Jepang, yang telah menyatakan bertekuk lutut kepada Sekutu. Senjata paronomasia hanya sebagian kecil yang berhasil direbut dari tentara Jepang. Bung Karno yang secara aklamasi dipilih sebagai presiden, juga belum punya kantor, bahkan masih tinggal di rumah sendiri, belum bisa masuk Istana Rijswijk di depan Lapangan Ikada. Demikian juga kelengkapan untuk Presiden, seperti mobil dan pasukan pengawal belum ada. Menyadari perlunya kendaraan bagi seorang presiden, Sudiro (nantinya menjadi Walikota Jakarta) ingin 'berburu' mobil bagi presidennya. Sudiro tahu, mobil yang terbagus di Djakarta waktu itu dimiliki oleh seorang pejabat Jepang. Mobilnya itu bahkan lebih hebat dari yang dipakai atasannya, Gunseikan (Kepala Pemerintahan Pendudukan Jepang) atau Saiko Sikikan (Panglima Tertinggi Balatentara Jepang). Mobil itu bikinan Inggris bermerek Buick, dengan 7 tempat duduk. Mobil bercat hitam yang masih mengkilat itu tampak mewah dan kaca belakang dihias dengan kain halus. Jalannya mulus tanpa suara, karena masih baru. Mobil itu oleh pemiliknya diparkir di kantor Departemen Perhubungan. Ketika Sudiro ke sana, dilihatnya sopirnya sedang duduk di dekat mobil. Sudiro segera meminta si sopir untuk menyerahkan kunci mobil. Tentu saja si sopir kaget dan menolak. Akhirnya ia bersedia menyerahkan kunci mobil itu. Pasalnya, Sudiro mengatakan mobil ini untuk Presiden (Bung Karno). Kepada sopir itu Sudiro memberi uang 300 rupiah gum ia segera pulang ke tempat asalnya, Kebumen. Setelah si sopir pergi, Sudiro yang telah memegang kunci mobil itu baru ingat bahwa ia belum bisa menyopiri mobil..
Apa betul itu mobil Bung Karno ? Jawabnya kurang lebih demikian. Tapi rasanya cerita diatas bukan mobil ini yang dimaksud. Mungkin mobil lain. Kalau mobil ini, Bung Karno dapat dari pemerintahan militer, kemungkinan sejak tahun 1943. Mobil inilah yang dipakai Bung Karno tanggal 7 Agustus 1945 saat menghadap di Gunsekan yang diterima oleh Jenderal Nishimura karena akan segera dibentuknya PPKI. Ini ada dalam film Nampo Hodo Nippon Eigasha Djakarta dengan kode No.43 ESTRA. Tampak dari capture, foto kanan atas saat mobil tiba dan kanan bawah saat sopir membukakan pintu dan Bung Karno keluar. Masih bisa terlihat dari foto-foto sebelah kanan No Plat Mobil B 7295. Foto sebelah kiri atas, pada tahun 80-an mobil ini yang pernah jadi milik orang lain dan rusak, diperbaiki serta bisa jalan. Dalam salah satu hari kemerdekaan dicoba diikutkan dalam pawai. Rupanya sudah bobrok sehingga dipinggirkan dan didorong. Foto kiri bawah, dari internet  perusahaan Buick yang menginformasikan secara rinci  Buick 2 Phaetons tahun 1939. Ada kemungkinan seperti informasi yang perlu diteliti lebih lanjut kalau mobil ini dizaman Belanda adalah mobil dinas direktur De Javasche Bank ?