Dr. Johannes Leimena (lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905 – meninggal di Jakarta, 29 Maret 1977 pada umur 72 tahun). Dirinya, adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri dalam kabinet Republik Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora. Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen), Batavia. Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu. Karena adanya perubahan sistim pendidikan kedokteran di Hindia Belanda pada tahun 1927 yaitu STOVIA ditutup dan didirikan GHS (Geneeskunde Hogeschool atau Sekolah Tinggi Kedokteran), maka setelah menempuh setengah pendidikan kedokterannya di STOVIA, ia sempat melanjutkan pendidikan sebagai dokter di GHS itu di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1930. Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930 . Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tak lama ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun 1931 sampai 1941. Dizaman Jepang dan Revolusi (1942-1945) bertugas di Rumah Sakit Tanggerang. Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara. Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Pada tanggal 29 Maret 1977, J. Leimena meninggal dunia di Jakarta. Sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 52 TK/2010 pada tahun 2010 memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Dr. Leimena. (Sumber Wikipedia yang diperbaiki).
Foto: Dr Leimena di Kemayoran Jakarta, pada akhir tahun 1947 menyambut kedatangan Horace Merle Cochran dari Amerika Serikat, Cochran selaku ketua Komisi Tiga Negara (KTN). KTN dibentuk dalam rangka perundingan Indonesia-Belanda 1947-1948 (Renville dan Kalurang)
Wednesday, May 30, 2012
Tuesday, May 22, 2012
Bemo berumur 50 tahun
Tidak terasa kedaraan dari pabrik Daihatsu ini sudah berumur 50 tahun (1962-2012). Bemo adalah singkatan dari "becak motor" dan merupakan kendaraan bermotor roda tiga yang biasanya digunakan sebagai angkutan umum di Indonesia. Bemo mulai dipergunakan di Indonesia pada awal tahun 1962, pertama-tama di Jakarta dalam kaitannya dengan Asian Games 1962 yang adalah Asian Games yang ke-4. Belakangan kehadiran bemo dimaksudkan untuk menggantikan becak. Namun rencana ini tidak berhasil karena kehadiran bemo tidak didukung oleh rencana yang matang. Bemo tidak hanya hadir di Jakarta, melainkan juga di kota-kota lain seperti di Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, Padang, Denpasar, dll. karena kendaraan ini sangat praktis dan mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, dan dapat melaju jauh lebih cepat daripada becak. Bemo yang mulanya beroperasi seperti taksi, belakangan dibatasi daerah operasinya di rute-rute tertentu saja, dan akhirnya disingkirkan ke rute-rute kurus yang tak disentuh oleh bus kota. Di Jakarta, bemo mulai disingkirkan pada 1971, disusul oleh Surabaya dan Malang pada tahun yang sama. Pada 1979, Pemerintah Daerah Surakarta mengambil langkah yang sama. Itu teorinya, tapi pada tempat tertentu seperti Bendungan Hilir, Bemo masih beroperasi. Bagaimana mungkin ? Bukankah pabriknya sudah tutup ? Itu teorinya juga, di Jakarta dan Bogor ada pabrik dan bengkel Bemo. Dan inilah usaha rakyat kecil yang menjalankan teknologi tepat guna....sampai nanti pabriknya di grebek Kementerian perhubungan. Foto: Saat pertama kali Bemo beroperasi tahun 1962 di Jakarta.
Monday, May 21, 2012
Boedi Oetomo dan OSVIA
Kebangkitan Nasional 2012
Bertempat di Museum Kebangkitan Nasional tanggal, 21 Mei 2012 telah dibuka dengan resmi oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Museum Kem Dik.Bud, Bapak Surya Helmi, Pameran Sejarah Pergerakan nasional Nasional " Satu Abad Indische Partij". Pameran akan berlangsung selama 1 minggu sampai dengan tanggal 27 Mei 2012. Indische Partij didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Ernest François Eugène Douwes Dekker (sering disingkat menjadi E.F.E. Douwes Dekker saja) Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Selain pameran, bulan depan juga akan diselenggarakan Seminar 1 Abad Indische Partij dengan tempat yang sama yaitu Museum Kebangkitan Nasioanal jalan Abdurachman Saleh no.26 Jakarta.
Sunday, May 13, 2012
Peristiwa Perundingan Linggarjati akan diangkat dalam layar lebar
Tiba-tiba foto ini muncul dalam media cetak surat kabar maupun internet, terkait rencana pembuatan film layar lebar oleh produser sekaligus sutradara Kuswara Sastra Permana tentang perundingan Indonesia-Belanda didesa Linggarjati Kuningan Jawa Barat. Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa yang tersirat dalam foto ? Foto dibuat pada tanggal 12 November 1946 saat rehat siang ketika di Linggarjati sedang berlangsung perundingan Indonesia-Belanda. Tempat pengambilan foto didalam rumah yang kini dikenal sebagai situs rumah Sjahrir di Linggarjati. Gedung ini memang dipergunakan untuk makan siang kedua delegasi yang berunding maupun tamu penting lainnya. Gedung juga merupakan tempat menginap delegasi Indonesia. Saat itu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta diundang oleh ketua delegasi Indonesia Perdana Menteri Sjahrir, untuk terlibat dalam perundingan . Dalam foto hadir, Presiden Soekarno, mantan Perdana Menteri Kerajaan Belanda W.Schermerhorn (ketua delegasi Belanda), Lord Killearn, diplomat penengah perundingan dari Kerajaan Inggris, Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Mook. Justru foto ini (dan sejumlah foto lainnya) amat bermakna untuk difahami masyarakat. Pertama tidak terbayangkan sebelumnya kalau dua bangsa yang sebelum perang adalah penjajah dan dijajah, dapat duduk bersama berunding untuk membicarakan soal penting tentang dekolonisasi di Indonesia. Yang kedua ketika perundingan selesai, saat itulah untuk pertama kali baik Belanda maupun dunia internasional mengakui eksistensi Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Yang ketiga dokumen Linggarjati merupakan dokumen persetujuan pertama yang menjadi dasar dari perundingan selanjutnya yaitu Renville dan KMB. Bagi yang yakin, tidak mungkin jalan penyelesaian dekolonisasi Indonesia tercapai tanpa melalui proses diplomasi dan moderasi. Dua sisi mata uang "diplomasi dan bertempur" dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia sejak lama tidak secara bijak ditempatkan secara berimbang. Mesti selalu non combat procedure dikebelakangkan....Semoga film ini benar-benar berhasil direalisasikan...
Friday, April 27, 2012
Hari Boeroeh 1 Mei 1946
Perayaan 1 Mei 1946 (sumber tulisan bagian dari http://indoprogress.com/2011/04/28/bagaimana-1-mei-dirayakan-pada-masa-lalu-ii/)
Perayaan 1 Mei 1946 adalah perayaan pertama dalam alam
kemerdekaan. Saat itu adalah masa Kabinet Sjahrir Kedua (Maret 1946 – Oktober
1946). Dengan membuka keran demokrasi parlementer, kabinet Sjahrir memastikan
keleluasaan gerakan buruh. Sjahrir adalah seorang demokrat-sosialis yang
mementingkan hak-hak buruh, setidaknya atas dua dasar: pembacaannya akan sistem
negara Indonesia yang ia cita-citakan sebagai negara kesejahteraan, dan
sokongannya terhadap gerakan buruh sebagai sumber mobilisasi massa. Karenanya,
Kementerian Sosial yang dipimpin oleh Maria Ulfah, memberikan dukungan besar
dalam pelaksanaan perayaan 1 Mei.
Kementerian Sosial mengeluarkan satu Makloemat, yang isinya:
Kepada boeroeh harian jg. ikoet merajakan hari 1 Mei diberi
gadjih teroes oentoek hari itoe. Kepada kantor2 Djawatan2 dan peroesahaan2 tsb
diatas diperkenankan mengibarkan Bendera Merah disamping Sang Merah Poetih.
Secara strategis, Makloemat Kementerian Sosial itu
sesungguhnya disusun sebagai jawaban positif pemerintah atas tuntutan dari
gerakan buruh sebelumnya. Beberapa minggu sebelum 1 Mei, Barisan Boeroeh
Indonesia (BBI) telah mengajukan tuntutan terbuka kepada Presiden agar 1 Mei
dijadikan hari raya (sebab hari 1 Mei 1946 memang jatuh pada hari Rabu), dan
“sekolah2 dan kantor2 soepaja ditoetoep oentoek menghormati hari itoe dan
kepada kaoem boeroeh seoemoemnja diberikan kesempatan seloeas2nja oentoek
merajakan hari kemenangan.”Jadi, inisiatif perayaan 1 Mei datang dari gerakan
buruh, dan oleh karenanya, mereka mengajukan tuntutan kepentingan kepada
negara. Negara memberikan jawaban positif atas tuntutan tersebut, dan bahkan
selangkah maju mendukung 1 Mei agar dirayakan secara besar-besaran oleh gerakan
buruh, dengan memberikan jaminan ekonomis pembayaran upah bagi buruh yang ikut
merayakannya dan memperkenankan pengibaran bendera merah (yaitu, bendera simbol
perjuangan buruh). Jawaban positif negara atas tuntutan dari gerakan buruh, bukanlah hal yang
mengherankan. Dalam konteks negara yang baru merdeka, negara Indonesia hendak
membangun citra yang membedakan dirinya dari negara kolonial yang dilawannya,
yaitu dengan melindungi dan mendukung gerakan rakyat. Seperti yang terjadi juga
di banyak tempat di Asia dan Afrika yang membebaskan dari cengkeraman
kolonialisme Eropa, negara Indonesia yang akan dibangun bukanlah seperti negara
kolonial yang menindas dan menyengsarakan rakyat (pribumi), melainkan berupaya
mengakomodir sebisa mungkin segala kepentingan rakyatnya. Gerakan buruh, yang
walaupun jumlahnya tidaklah besar di negara-negara yang baru merdeka ini,
mempunyai peran sentral sebagai penggerak mobilisasi massa, sehingga dukungan
sosial-politik gerakan buruh menjadi salah satu kunci utama bagaimana pondasi
negara yang baru merdeka itu akan disusun. Dalam konteks demikian, Makloemat
Kementerian Sosial dapat dipahami sebagai bentuk relasi simbiosis mutualis
politik antara negara muda Indonesia dengan gerakan buruh. Tidak ada data
sejarah yang menceritakan bagaimana pelaksanaan isi Makloemat Kementerian
Sosial tersebut di dalam kenyataannya di lapangan. Apakah benar semua buruh
yang “ikoet merajakan hari 1 Mei diberi gadjih teroes oentoek hari itoe”?
Apakah sungguh terjadi diperkenankannya pengibaran “Bendera Merah disamping
Sang Merah Poetih” di kantor-kantor pemerintah? Kita tidak dapat menjawab secara
positif dua pertanyaan penting ini. Dengan demikian, tidak dapat disimpulkan
bahwa tidak ada pelanggaran atas isi Makloemat itu. Walau begitu, penelusuran
beberapa koran utama sepanjang tahun 1946, tidak menemukan adanya berita
keluhan dari gerakan buruh atas perayaan 1 Mei 1946, sehingga kita cukup
mengetahui bahwa perayaan 1 Mei 1946, sekalipun terjadi pelanggaran atas isi
Makloemat, telah berjalan lancar. Patut diketahui pula bahwa persiapan perayaan
1 Mei 1946 telah dimulai beberapa hari sebelumnya. Jauh hari sebelumnya,
Barisan Boeroeh Indonesia sudah membentuk “Panita Peringatan hari 1 Mei”. Tugas
Panitia ini lebih berupa “penerangan-penerangan” – atau dalam kosakata
kekinian: kampanye – perihal sejarah dan arti penting perayaan 1 Mei bagi buruh
dan masyarakat umumnya. Maka itu, dapatlah kita ketahui konteks sosial-politik
penulisan buku saku “Satoe Mei: Hari Kemenangan Boeroeh Sedoenia” karangan
Sandra – yang mencoba menerjemahkan perayaan 1 Mei bagi buruh dalam alam
kemerdekaan yang baru dinikmati rakyat Indonesia. Jadi, “penerangan” ditempuh
lewat terbitan buruh. Selain itu, “penerangan-penerangan” ini juga dilakukan
dengan memanfaatkan media utama pada jaman itu, yaitu: radio. Radio adalah
media massa terpenting pada masa 1940-an – 1950-an yang dapat menjangkau
masyarakat luas, dan perayaan 1 Mei (dianggap) sebagai hal penting yang perlu
disiarkan dan diketahui rakyat umum. Gerakan buruh memberikan
“penerangan-penerangan” lewat radio dalam siaran berita Antara. Kegiatan apa
yang disusun, juga jadwal acara perayaan 1 Mei disebarkan ke masyarakat umum
lewat radio. Menteri Sosial juga memberikan pidatonya lewat radio dalam perayaan
1 Mei 1946. Pidatonya berintikan dua hal, yaitu tentang “sedjarah sarekat
kerdja di lain negeri”, dan juga harapan agar gerakan buruh “memberi bantoean
dengan ikoet membangoenkan negara Indonesia jang merdeka.” Menariknya, Menteri
Sosial juga menyebut program kerja Kementerian dalam menyusun satu
“Oendang-oendang Sosial jang ditoejoekan kepada perbaikan nasib rakjat
Indonesia seoemoemnja.” Oendang-oendang
sosial ini dalam perkembangannya di kemudian hari menjadi UU No. 12/1948
tentang Kerdja. Selain “penerangan-penerangan”, BBI juga mengadakan “pertemoean
dimana kaoem boeroeh laki-laki dan perempoean djoega isteri boeroeh, ditoenggoe
kedatangannja”. Pertemuan umum lebih berupa ajang sosialisasi di antara
rekan-rekan aktivis buruh di tingkat nasional. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya”
dan lagu perjuangan buruh “Internasionale” diputar berturut-turut. Juga
diperkenalkan lagu “Satoe Mei” sebagai lagu perjuangan buruh Indonesia dari
kelompok progresif . Sementara itu di tingkat lokal, perayaan 1 Mei 1946
mengambil bentuk lain. Sebagaimana diberitakan, gerakan buruh di Pati
mengadakan “rapat raksasa” yang berupa upacara (yang dimulai pukul 7 pagi) dan
dilanjutkan dengan “arak-arakan setjara demonstrasi dengan membawa
sembojan-sembojan”. Juga diadakan “gerakan pengoempoelan bahan pakaian,
obat-obatan dan lain-lain oentoek menolong fakir miskin dan bekas roomoesha.”
Keprihatinan gerakan buruh terhadap fakir miskin dan bekas rõmusha merupakan
bentuk solidaritas yang dipusatkan bagi kesejahteraan masyarakat umum. Gerakan
buruh (sudah) menyadari bahwa kesejahteraan rakyat seluruhnya adalah bagian
dari cita-cita perjuangannya juga. Sebagai kelompok masyarakat yang “cukup”
beruntung memiliki pekerjaan dan memperoleh upah atas pekerjaannya itu, gerakan
buruh melakukan kerja-kerja konkret tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi bagi
kaum rendahan keseluruhan. Kerja konkret ini didasarkan pada fakta bahwa bahan
makanan pada masa-masa awal kemerdekaan sangatlah sulit didapat – dan harga
beras di tanah Jawa melonjak drastis dalam masa kurun 1946-1947, sehingga
beberapa serikat buruh menuntut pembayaran upah berupa beras. Dengan demikian,
jelaslah bahwa bagi gerakan buruh Indonesia perayaan 1 Mei bukan semata-mata
merupakan euforia sukacita perayaan kemenangan kelompok buruh atas
pencapaian-pencapaiannya secara eksklusif, namun ekspresi keprihatinan yang
bertujuan mendorong keadilan sosial bagi masyarakat umum. Ini adalah salah
butir penting perayaan 1 Mei 1946, yang bisa kita simpulkan. Lagu “Satoe Mei”
yang dijadikan lagu utama perjuangan buruh tahun 1946. Sumber: Boeroeh, 29
April 1946. Perpustakaan Nasional, Jakarta. Foto kiri: Bung Karno berpidato di muka massa buruh di alun-alun Yogyakarta. Foto kanan: Lagu 1 Mei yang mulai dinyanyikan sejak tahun 1946
Tuesday, April 03, 2012
Tuesday, March 20, 2012
Pertemuan guru sejarah di Nijmegen Belanda.
Setahun yang lalu pada bulan Maret 2011 di Nijmegen Belanda, diadakan pertemuan besar para guru sejarah dari seluruh dunia. Sebanyak 40 orang hadir disana. Mereka mendiskusikan sejarah Eropah. Geschiedenis 24 (sebuah lembaga TV Belanda yang terkait pada bidang sejarah) memawancarai mereka. Tentu saja antara lain soal koloni Belanda, Hindia Belanda yang setelah merdeka bernama Republik Indonesia sekarang. Rasanya tidak ada guru sejarah Indonesia yang ikut kesana. Dalam foto adalah guru sejarah Marzia Gigli dari Italy yang menyinggung soal Indonesia dan Batavia (sekarang Jakarta). Mestinya guru sejarah Indonesia bisa memberikan sumbangan pendapatnya kalau ada yang ikut.
Friday, February 24, 2012
may Jen Susalit
Foto putera satu-satunya RA Kartini, yaitu Raden Mas Singgih yang waktu
kecilnya bernama Susalit (Jawa : susah wiwit alit atau dalam bahasa Indonesia
susah sejak kecil). Foto saat pelantikan Batalyon Sudjono dan Batalyon Darjatmo pada tanggal 5 Mei 1948 oleh Jenderal Mayor Susalit. Tampak ikut hadir Panglina Besar Jenderal Soedirman.
Friday, February 17, 2012
Salemba 6, 90 tahu (bag ke II)
Atas tuntutan yang lebih meningkat lagi, pada th 1927 didirikan Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundig Hooge School atau GH). STOVIA tidak dibubarkan tapi berjalan terus dimana baru ditutup dengan resmi pada tahun 1937. Kalau sebelumnya untuk memperoleh gelarArts harus pergi kenegeri Belanda, sejak GH tidak perlu lagi. Untuk memberikan peluang pada para mahasiswa ex STOVIA untuk ikut dalam pendidikan GH, mahasiswa tingkat IV keatas mendapat kesempatan melalui testing. Tentu saja mata kulia lebih dikembangkan dan fasilitas pendidikan jauh lebih baik. Lama pendikan GH adalah 7 tahun dan menerima calon mahasiswa dari sekolah menengah atas. Berbeda dengan STOVIA yang menganut sistim pendidikan Guided Study atau pendidikan terpimpin, GH menganut sistim Free Study (pendidikan bebas) dimana sang mahasiswa menentukan kapan untuk menempuh ujian. Dengan perkataan lain jumlah mahasiswa yang lulus setiap tahun sukar diperkirakan. Saat itu timbul fenomena yang disebut sebagai Mahasiswa Abadi (de eeuwige student). Dalam kehidupan mahasiswa muncul dan tumbuh organisasi seperti Unitas Studiosorum Indonesiensis (USI) dan Bataviasche
Studentcorps (BSC).
Jepang mulai menduduki Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942. Sejak itu kedua sekolah kedokteran GH dan NIAS (Nederlands Indisch Arts School) di Surabaya ditutup.
Pada tahun 1943 keduanya disatukan dan pendidikan diadakan di Jakarta dengan nama Ika dai Gaku. Tempat pendidikannya di Salemba 6 juga. Karena banyaknya mahasiswa dari luar kota, didirikanlah asrama yang terletak di jalan Prapatan 10. Berbeda dengan GH, lama pendikan Ika Dai Gaku adalah 5 tahun. Selama zaman Jepang berhasil lulus dua angkatan tahun 1944 dan 1945. Hampir semua lulusan menjadi dokter militer dalam kesatuan PETA. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Salemba 6 dan CBZ berubah menjadi Pergoeroean Tinggi Kedokteran dan Roemah sakit Pergoeroean Tinggi. Dalam perjalanan sejarah pendikan kedokteran di Indonesia ini sempat berpindah tempat beberapa kali. Mula-mula ke Malang dan Klaten, kemudian pada tahun 1950 kembali ke Jakarta. Pada saat itulah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ditetapkan berdiri. Zaman Revolusi di Jakarta (1948) Rumah sakit dan Pergoeroean Tinggi Kedokteran sempat diambil alih pihak Belanda. Pihak Republik Indonesia tidak bisa menerima keadaan ini sehingga pihak tenaga pelaksana Dokter, Perawat dan tenaga administrasi termasuk para pasien meninggalkan Rumah sakit.
Bagaimana Salemba 6 dan RSCM (Diponegoro 71) saat ini ? Telah berubah banyak. Menyongsong akan dibangunnya Twin Tower di halaman dalam FKUI dan telah dibangunnya Rumah Sakit Kencana di ujung barat, Kita tidak mengenal lagi bagaimana CBZ dan STOVIA pada tahun 1919 dan 1920.
90tahun telah berlalu biarlah kenangan tetap melekat yang dapat mencitrakan sulitnya perjuangan, jatuh bangunnya dan geliat keras melawan tantangan dan cobaan dalam alam pendidikan dokter, penelitian kedokteran serta pelayanan yang memadai bagi rakyat Indonesia...
Foto atas: Penandatanganan Prasasti dan peletakan batu pertama oleh Nyonya Gubernur Jenderal Van Limburstirum.
Subscribe to:
Posts (Atom)


_in_Probolinggo_TMnr_60050027.jpg)





