Friday, February 17, 2012

"Snapshot" Amir Sjarifoeddin


Oleh: Rosihan Anwar
Membaca tulisan Sabam Siagian berjudul Diskusi tentang Alm Amir Sjarifoeddin (SP 31 Mei 2008) tampil lagi di layar ingatan saya beberapa snapshot Bung Amir, sebagaimana saya mengenalnya pada zaman pendudukan Jepang dan hari-hari pertama revolusi Indonesia. Pada suatu malam pertengahan 1942, zaman Jepang, di sebuah gedung di jalan yang kini bernama Merdeka Barat, Jakarta, Barisan Pemuda Asia Raya digembleng oleh Mr Amir Sjarifoeddin, pemimpin nasionalis terkenal. Atas dorongan Dr Abu Hanifah, saya dan Usmar Ismail memasuki perkumpulan Barisan Pemuda Asia Raya, yang selain dilatih berbaris secara militer oleh dua mantan opsir tentara KNIL juga diberi ceramah- ceramah mengenai nasionalisme. Bung Amir menguraikan sejarah pergerakan nasional dan menganjurkan agar pemuda melanjutkan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Pemuda harus senantiasa senasib sepenanggungan dengan rakyat. Juga mendengarkan kata wong cilik. Dia menggunakan sebuah tamsil, yaitu supaya pemuda mendengarkan "radio masyarakat". Saya sangat terkesan oleh kepandaian Bung Amir berpidato. Saya kemudian menulis cerpen untuk ikut dalam perlombaan mengarang yang diselenggarakan oleh majalah Djawa Baroe. Judul cerpen Radio Masyarakat, terpilih sebagai pemenang nomor tiga. Dikasih hadiah Rp 50. Kelak dimuat oleh HB Jassin dalam antologi sastra Gema Tanah Air. Karena buku itu dipakai dalam pelajaran sastra pelajar SMP, saya dikenal sebagai yang menciptakan istilah Angkatan 45 dalam kesusasteraan, dan sebagai penulis cerpen Radio Masyarakat.
Pertemuan kedua dengan Bung Amir terjadi di Stasiun Gambir petang hari 1 Oktober 1945. Pada hari itu Merdeka, yang dipimpin BM Diah, terbit untuk pertama kali. Sebagai redaktur pertama harian Merdeka bersama Wali Kota Jakarta Suwiryo saya menunggu kedatangan Bung Amir dari Surabaya. Dia ditangkap oleh Jepang pada Januari 1943, dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25.000 gulden dari Van der Plas sebelum kapitulasi Belanda kepada Jepang. Dia dihukum mati oleh Jepang, tapi berkat intervensi Soekarno vonis itu tidak dilaksanakan. Bung Amir telah diangkat sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet pertama Presiden Soekarno. Turun dari kereta api dia tampak lelah dan kurus. Jelas dia telah disiksa oleh kempetai Jepang. Dia tidak dapat memberikan keterangan apa-apa kepada wartawan yang datang, cuma satu orang. Dia langsung pulang ke rumah istrinya di Jalan Merbabu. Saya ikuti dia ke sana. Dia tetap tidak mau bicara. Kecuali bertanya "Saudara dulu ada di mana?" Saya jawab "Saya orang biasa, Bung". Segera dia bertugas sebagai Menteri Penerangan. Pada 4 Oktober diselenggarakan konferensi pers pertama dengan koresponden luar negeri yang telah datang di Jakarta. Diceritakannya pengalamannya dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang. Dengan tegas disimpulkannya: "Semua itu menunjukkan cerita-cerita orang di luar bahwa pemerintahan RI adalah boneka Jepang sama sekali tidak benar". Saya terkesan mendengar kefasihan dia bicara dalam bahasa Inggris.
Tak Banyak Bicara
Pada hari yang sama di kediaman Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta menerima para koresponden luar negeri, yang pada waktu itu berpakaian seragam militer dan di pundak ada badge war correspondent. Soekarno didampingi oleh beberapa menteri, seperti, Menlu Subardjo, Mendagri Wiranatakusuma, Menteri Perekonomian Surachman, Menteri Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Menteri Kehakiman Soepomo, dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin yang pakai celana pendek, kaus kaki panjang, gaya uniform Marsekal Lord Wavell. Dia tidak banyak bicara. Yang menjawab pertanyaan Presiden Soekarno
Pada 10 Oktober, Tiongkok merayakan peringatan Kuomintang. Di gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Lapangan Banteng (di zaman Belanda Hooggerechtshof, Mahkamah Agung) Bung Amir berpidato tanpa teks yang dipersiapkan. Dia bicara lancar, menarik, karena merujuk pada fakta-fakta sejarah. Salah satu sound bite diutarakannya ialah "Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mencapai keadilan dan kemakmuran".
Kami berada di Yogya pada 10 November 1945 di Gedung Sociteite, tempat diadakannya Kongres Pertama Pemuda Indonesia. Presiden dan Wakil Presiden hadir, juga Menteri Penerangan. Pukul 10.00 di- terima telepon interlokal dari Surabaya yang mengabarkan "Inggris telah mulai membom". Sumarsono, pemimpin PRI (Pemuda Republik Indonesia), segera menginstruksikan agar delegasi Jawa Timur meninggalkan ruangan dan kembali ke front. Bung Amir mendekati saya dan berkata "Pergilah ke Surabaya. Beritakan pertempuran di situ". Itulah sebabnya saya dan rekan Mohammad Supardi dari Merdeka dengan naik kereta api yang membawa amunisi berangkat meliput pertempuran di Surabaya.
Saya lihat Bung Amir bersama Dr Ak Gani menyambut kedatangan delegasi Belanda di Pelabuhan Cirebon pada November 1946. Ketua Komisi Jenderal Belanda mantan PM Schermerhorn dan Letnan Gubernur Jenderal Van Mook sedang dalam perjalanan ke Linggajati di mana sudah menunggu PM Sutan Sjahrir. Saya tidak dapat bicara dengan Bang Amir waktu itu. Saya bukan wartawan, melainkan ditunjuk oleh pemerintah menjadi ajudan Lord Killearn, sehingga sibuk melayani diplomat Inggris yang jadi mediator perundingan Linggajati. Karena Sjahrir menolak tuntutan Belanda supaya menyetujui pembentukan gendarmerie yang bertanggung jawab atas keamanan dan di- kepalai oleh jenderal Belanda, sedangkan di pasal-pasal politik dia telah memberikan konsesi, terjadi krisis yang menyebabkan Sjahrir mengembalikan mandatnya. Amir Sjarifoeddin tampil sebagai PM pada 3 Juli 1947, tapi dalam kabinetnya Masyumi tidak ikut serta. Atas saran Soekarno, Bung Amir memasukkan orang-orang Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) seperti Wondoamisano, Arudji Kartawinata ke dalam kabinet dan dengan begitu Masyumi terpecah-belah. Sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Siasat, saya diminta datang ke Yogya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Bung Amir. Saya dengarkan uraiannya bahwa dia membutuhkan backing politik golongan Islam terhadap kabinetnya dan karena itu memasukkan PSII ke dalamnya. Tak lama setelah saya balik ke Jakarta, pada 21 Juli 1947 Belanda melancarkan aksi militernya yang pertama terhadap Republik.
Kapal Perang
Kesempatan berikut saya melihat Bung Amir ialah di kapal perang Amerika Renville, yang berlabuh di Tanjung Priok di mana diadakan perundingan dengan pihak Belanda. Bung Amir sedang bercakap-cakap dengan Profesor Frank Graham, wakil Amerika dalam Komisi Tiga Negara (KTN) yang jadi perantara dalam perundingan Renville, Desember 1947 dan berakhir dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville 17 Januari 1948. Waktu bercakap-cakap dengan Graham di geladak Renville, Bung Amir memegang sebuah Kitab Injil. Reaksi partai Masyumi dan PNI terhadap teks perjanjian Renville yang telah ditandatangani oleh PM Amir Sjarifoeddin menimbulkan krisis kabinet. Bung Amir mengembalikan mandat dan kabinetnya digantikan oleh kabinet Mohammad Hatta pada 29 Januari 1948. Sejak itu Bung Amir hilang dari layar radar pengamatan saya. Dari pedalaman datang berita mengenai oposisi keras dari Sayap Kiri yang kemudian menjelma sebagai FDR (Front Demokrasi Rakyat) terhadap kabinet Hatta. Bung Amir aktif di dalamnya. Pada 11 Agustus, Suripno yang mewakili RI di Praha, bersama seorang "sekretaris" terbang dari Bukittinggi ke Yogya dan beberapa hari kemudian mengungkapkan bahwa "sekretaris" itu ada- lah Musso, gembong PKI yang sudah lama bermukim di Uni Soviet.Dengan cepat Musso membubarkan FDR, membentuk PKI. Bung Amir memberikan pengakuan publik bahwa sejak 1935 dia bergabung dengan "Partai Komunis Ilegal" yang dibentuk oleh Musso di Surabaya pada 1936. Lalu Setiadjit, Tan Ling Djie, dan Abdulmadjid, juga mengaku mereka adalah komunis.Pada 18 September 1948 dipimpin oleh Sumarsono pecah pemberontakan PKI di Madiun. Akibatnya, Soekarno-Hatta bertindak tegas terhadap PKI. Musso ditembak mati ketika melarikan diri. Bung Amir bersama Maruto Darusman ditangkap, kemudian menjelang akhir tahun dieksekusi di sebuah desa dekat Solo. Bung Amir tewas dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, setelah menyanyikan lagu "Internationale", dalam usia 41 tahun, masih muda. Apakah Bung Amir komunis? Pertanyaan ini saya ajukan kepada Bung Sjahrir yang menjawab "tidak". Tapi, Sjahrir tidak memberikan alasan mengapa dia menjawab begitu. Bagaimanakah Bung Amir waktu masih studen Rechts Hoge School di Batavia? Tanya saya kepada Dr Abu Hanifah, yang satu asrama dengan Bung Amir. Dijawabnya "Amir itu seniman. Di kamarnya dia suka main biola menggesek lagu-lagu klasik. Pada waktu itu karena pengaruh guru besarnya Profesor Schepper dia sedang tekun membaca Injil, sebagai orang yang semula Islam berganti agama memeluk Kristen. Tidak ada tanda-tanda dia tertarik pada komunisme". George McTurnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifoeddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena "kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville". Dia merasa ditinggalkan oleh AS yang katanya jago demokrasi itu. Tapi, keterangan lain yang saya dengar waktu itu sebabnya Amir menyatakan dirinya komunis adalah untuk tetap bisa berperan sentral di pentas politik, berada at center stage. Mana yang benar, siapa yang tahu? Bung Amir telah membawa sebuah misteri ke alam kubur. Orang boleh mengadakan kajian psiko-analisis dan mungkin di situ bisa diperoleh jawaban untuk menerangkan perilaku Bung Amir. Di mata saya, sebagai wartawan muda di zaman revolusi, Bung Amir adalah seorang nasionalis, idealis, tapi bersamaan juga tragis.
Penulis adalah wartawan senior
Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY
Wednesday, November 26, 2008 at 4:51am

Mr Kasman Singodimejo

Mr. Kasman Singodimedjo (lahir di Poerworedjo, Jawa Tengah, 25 Februari 1904 – meninggal di Jakarta, 25 Oktober 1982 pada umur 78 tahun) adalah Jaksa Agung Indonesia periode 1945 sampai 1946 menggantikan Mr Gatot yang mengundurkan diri dalam kabinet RI pertama. . Selain itu ia juga adalah Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang menjadi cikal bakal dari DPR. Di zaman Jepang Pak Kasman adalah salah satu Daidancho (pimpinan batalyon) Tentara Pembela Tanah Air atau PETA. Markas Batalyonnya terletak Harmoni disebelah Bank Tabungan Pos yang sering disebut Batalyon Jaga Monyet. Selama hidupnya aktif dalam idiologi Islam misalnya Masjumi dan Parmusi. Anehnya saat muda adalah anggota kepanduan Surja Wirawan yaitu organisasi pemuda dibawah Parindra.

Tuesday, February 14, 2012

Peringatan 67 Tahun Pemberontakan PETA Blitar

Dalam rangka peringatan 67 tahun peristiwa Pemberontakan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang dipimpin oleh Shodancho Suprijadi di Blitar, bertempat di Museum PETA Bogor telah diadakan upacara dan Sarasehan. Foto: Atas, Museum PETA Bogor dengan patung Suprijadi didepan. Bawah, para panelis sarasehan: Bapak Alwin Nurdin, Bapak Purbo Suwondo, Bapak Tinton Suprapto (ketua Yayasan PETA) Bapak Sutjipto Kertadjaja dan Bapak Halim Danoeatmodjo. Semoga ada gunanya....

Wednesday, February 01, 2012

Jan Bakker tokoh dibalik pembuangan Bung Karno

Pada tanggal 22 Desember 1948 dalam Agresi Militer Belanda ke II, Presiden Soekarno ditangkap dan dengan B 25 bersama Sjahrir dan H.Agus Salim dibuang ke Brastagi kemudian Prapat di Sumatera Utara. Tokoh perwira intel yang berperan dan mengatur pembuangan ini bernama Jan Bakker. Dalam foto kanan Letnan J Bakker bersama Presiden Soekarno di lapangan terbang Maguwo. Dan sebelah kiri Jan Bakker saat diwawancarai soal jenderal Spoor oleh TV Belanda pada tahun 2010. Kemungkinan Jan Bakker masih hidup saat ini di Belanda. Foto kiri dari capture film TV 'Het Optimisme van general Spoor

Wednesday, January 25, 2012

Penyerahan Surat-Surat Kepercayaan Duta Besar Retno Marsudi


KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA

DEN HAAG


Penyerahan Surat-Surat Kepercayaan Duta Besar Retno Marsudi

kepada Ratu Beatrix

            Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Y.M. Ibu Retno L.P. Marsudi, telah menyerahkan surat-surat kepercayaan kepada Y.M. Ratu Beatrix Wilhelmina Armgard di Istana Noordeinde, Den Haag, pada hari ini tanggal 25 Januari 2012. Duta Besar perempuan pertama dari Indonesia untuk Kerajaan Belanda ini akan membawa gagasan-gagasan baru dan segar serta kekuatan baru untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara dan memajukan kepentingan Indonesia di Belanda sebagai mitra di bidang perdagangan, penanaman modal, pariwisata serta sebagai pintu gerbang Indonesia ke Eropa.
            Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Retno Marsudi menyampaikan salam hangat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Y.M. Ratu serta menyatakan bahwa Indonesia sangat berbesar hati bahwa Y.M. Ratu dan pemerintahnya memiliki komitmen kuat untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Belanda berdasarkan atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan.
             Y.M. Ratu menyambut hangat kembalinya Duta Besar Retno Marsudi ke Belanda dan mengharapkan agar tugas-tugas yang akan diemban oleh beliau sebagai Duta Besar Republik Indonesia berjalan dengan sukses.
            Y.M. Ratu juga menyampaikan kekagumannya kepada cepatnya kemajuan politik dan ekonomi di Indonesia dan menekankan pentingnya Indonesia bagi Belanda. Diharapkan hubungan Indonesia-Belanda akan dapat ditingkatkan di masa depan bagi kemajuan kedua bangsa.
            Dalam upacara ini, Duta Besar Retno Marsudi didampingi oleh suaminya Bapak Agus Marsudi, Wakil Kepala Perwakilan Bapak Umar Hadi, Minister Counselor Politik, Minister Counselor Penerangan dan Sosial Budaya dan Atase Pertahanan.

Sunday, January 15, 2012

Tukul Ikon Idola


Tukul Arwana merupakan tokoh komedian yang fenomenal. Belum ada orang sezamannya yang melejit tidak tanggung-tanggung baik sebagai presenter, pembawa acara atau subjek pelawak langsung dari mata acaranya. Alangkah dirinya dalam banyak kesempatan sebelum masyarakat bosan, bisa mengembangkan diri dalam postur budaya lainnya. Rasanya bidang tarik suara mungkin bisa menambah aktingnya sekaligus sumber penghasilan baru....

Pronojiwo 1947


Pronojiwo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mengadakan Aksi Polisionel pertama. Mereka yang terdiri dari pasukan Marinir mendarat di pantai Pasir Putih Situ Bondo. Pasukan dibagi dua untuk wilayah Oostkust van Java ini. Satu ketimur dan satu ke barat. Yang ke Barat menuju Malang dan Lumajang. Sore itu juga mereka sudah melakukan operasi pasifikasi antara lain menangkap dan membunuh diwilayah yang berhasil diduduki. Pasukan TNI tidak bisa berbuat banyak karena memiliki kemampuan militer terbatas. Di daerah Pronojiwo jembatan yang memisahkan bagian timur dan tenggara Guning Semeru adalah jembatan besar yang dibangun tahun 1925 . Jembatan ini yang bernama Geladak Perak sudah dihancurkan pihak TNI agar pasukan  Marinir itu tidak bisa mengejar pasukan Indonesia yang mundur. Tetapi dengan usaha pihak zeni Belanda, mereka bisa diperbaiki dan operasi diteruskan. Karena serangan Belanda ini ibu kota kabupaten dari Lumajang memang telah berlokasi di Pronojiwo. Setelah Lumajang kemudian Pronojiwo dikuasai Belanda tanggal 22 Juli 1947, saat itu Bupati Lumajang Abu Bakar  beserta Patih Sastrodikoro dan pejabat lainnya mengungsi dan berpindah-pindah tempat ke barat, mulai dari Penanggal sampai Dampit, Malang. Pada tanggal 17 September 1947, mereka bertempat di Perkebunan Jagalan Pedukuhan Sumber Pitu, Ampelgading, Malang dibentuk Volk Devency Kabupaten Lumajang (VDKL). Lembaga ini perwujudan pertahanan rakyat semesta Kabupaten Lumajang, bertujuan untuk menciptakan keselarasan gerak perjuangan antara pemerintah, TNI dan rakyat. Di awal tugasnya VDKL berpindah ke daerah Pronojiwo, tempat ini digunakan sebagai basis gerakan perlaawanan rakyat. Belanda mengetahui hal tersebut, maka mengirim pesawat terbang yang menjatuhkan tiga buah Bom. Bom dijatuhkan dari pesawat Belanda dengan sasaran markas VDKL. Satu bom jatuh dan meledak di pasar Pronojiwo yang membunuh maupun melukai banyak warga sipil laki-laki perempuan termasuik anak-anak, satu bom lagi meledak di dekat markas VDKL dan satu bom lagi yang tepat di halaman VDKL ternyata tidak meledak. Padahal didalam markas, Patih Sastrodikoro sedang memimpin sebuah rapat. Saat ini ditempat yang menelan banyak korban jiwa tersebut didirikan sebuah monumen. Gambar-gambar terlamir setelah keganasan tentara Belanda dimana, para pimpinan masyarakat bersama rakyat melakukan pemakaman berpuluh korban akibat angkara murka nya pasukan Marinir Belanda tersebut. Bagi yang terluka diusahakan pertolongan seadanya didesa Pronojiwo dimana sebagian yang parah akhirnya meninggal dunia juga.

Tuesday, January 10, 2012

Pedagang kelontong pikulan keliling.

Ketika tukang kelontong pikulan mendatangi rumah pembali, pertanda hubungan dagang rutin bulanan berjalan mulus. Nyonya rumah boleh memilih barang apa yang dibutuhkan, mulai dari keperluan dapur dan cuci, kamar mandi, makanan kecil sampai tekstil dan garment....Hebat juga ya seperti mini market zaman sekarang. Kalau engga salah dalam sekala kecil masih ada pedagang macam begini tapi dengan tujuan kasi kredit. Biasanya pedagannya sekarang berasal dari daerah Tasik Malaya dan Garut... Zaman dahulu kelengkapan pedagang adalah pedagangnya sendiri dan tukang pikul. Pembeli sudah terhitung langganan sehingga pedagang bisa datang saban bulan. Pembayaran soal belakangan, bakal ada yang nagih dan bawa rekening. Soal kejujuran dan sakelek berdagang menjadi jaminan alias Ceng Lie.

Sunday, January 08, 2012

Foto Korban PKI

Dalam buku Harry Poeze "Madiun 1948 PKI bergerak", halaman 223 tercantum foto no.2. Keterangannya adalah : Tentang kekejaman PKI tidak banyak foto ditemukan . Foto diatas sering diterbitkan ulang. Dalam buku yang sama pada halaman 282 tercantum foto 1 dengan keterangan pada halaman 275: Sepuluh foto berikut menceritakan kisah tentang pemeriksaan terhadap tawanan pengangkutan atau pemindahan dari tempat satu ketempat lain, penggalian lubang kubur masal dan akhirnya eksekusi dengan bayonet terhadap anggota anggota PKI di Magetan. Sebenarnya dua foto bagian atas itu sudah pernah dimuat dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1950 halaman 186. Keterangan fotonya: Korban-korban keganasan PKI Madiun. Dalam hal ini timbul pertanyaan mengapa kedua foto itu disandingkan dalam judul yang sama padahal foto 1 menurut Harry Poeze sebagai korban eksekuisi anggota PKI. Jangan-jangan memang benar kedua foto itu adalah korban eksekusi anggota PKI dan bukan korban rakyat akibat kekejaman PKI. Kedua foto ini dengan mudah bisa didapat di internet seperti yang saya lampirkan pada foto 3 dan sejumlah foto lainnya yang juga dilampirkan Harry Poeze dalam bukunya. Sedangkan foto 4 memang ada dalam koleksi IPPHOS, dengan kode IPPHOS 18-25 tentang Peristiwa Madiun. Sejarah kadang-kadang masih diliputi 1001 macam misteri....

Wednesday, December 28, 2011

Jozef Cleber dan lagu Indonesia Raya

Jozef Cleber atau juga sering hanya ditulis Jos Cleber (lahir di Maastricht, 2 Juni 1916 – meninggal di Hilversum, Belanda, 21 Mei 1999 pada umur 82 tahun) adalah musisi (konduktor) berkebangsaan Belanda yang datang tahun 1949 di Indonesia atas kerjasama Pemerintah Belanda dan Indonesia dalam rangka mengembangkan musik di Indonesia.
Ia adalah anak bungsu dari delapan anak Gerardus Josephus Cleber, seorang pemain orgel dan konduktor paduan suara, ibunya Anna Maria Bastian. Ia dilahirkan sebagai keluarga Katolik. Pada tahun 1939 ia kawin dengan Elisa Magdelijns (1917-2007), mempunyai seorang anak perempuan (Yvonne Charlotte). Namun tahun 1951 kemudian bercerai dan kawin lagi tahun 1951 itu juga di Jakarta dengan Johanna Dirkje de Bruijn (lahir 1923) yang bertemu di Radio Batavia ( RRI Jakarta) dan mempunyai seorang anak perempuan juga (Karian).
Ia mempunyai bakat musik yang luar biasa, dan belajar musik dari ayahnya. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama, ia masuk Sekolah Musik Atas (muzieklyceum), dan melanjutkan belajar biola dan piano pada konservatorium di kota Luik (Belgia). Ia juga belajar musik jazz, dan pengagum Duke Elington, dan disarankan belajar saxophone dan klarinet, namun trombone adalah alat musik pilihannya (yang katanya mouthpiece trombone sesuai dengan bibirnya). Pada usia 15 tahun (1931) ia sudah bermain pada Maastrichtsch Stedelijk Orkest (orkes kota) sebagai pemain biola alto. Kemudian ia bermain pada orkes Paul Godwin, dan kemudian pada waktu dinas militer tahun 1939 main di Tonhalle Orchester Zürich. Setelah usai Perang Dunia II ia kembali ke Belanda dan bekerja sebagai pemain trombone dan biola di 'Tuschinski-Theater' di bawah pimpinan musikus Max Tak, kemudian atas bantuan musikus ini ia bekerja sebagai trombonis pada Orkes Pop AVRO pimpinan Elzard Kuhlman (AVRO = Algemeene Vereeniging Radio Omroep / Radio Penyiaran Negeri Belanda). Kemudian tahun 1942 ia bekerja sebagai trombonis pada Concertgebouw-Orkest (sebuah orkes besar di Gedung Konser Amsterdam yang terkenal hingga kini). Selain itu ia juga belajar dirigen, ilmu harmoni dan kontrapun dari komponis Kees van Baaren di Amsterdam. Kemudian ia bertemu dengan Theo Uden Masman, seorang pimpinan orkes dansa di Hilversum. Tidak lama kemudian ia bergabung di Orkes Metropolitan pimpinan Dolf van Linden sebagai pemain trombone dan aransir antara 1945-1948. Juga dia bergabung pada band Selecta dan Decca Swing Combo.
Pada bulan Juni 1948 ia berangkat ke Indonsia. Setelah itu kembali tahun 1952 ke Belanda, pada tahun 1962 ia beserta istri (Joke) dan anaknya (Karian) ke Afrika Selatan. Namun tahun 1964 ia kembali lagi ke Belanda (Hilversum). Tahun 1981 ia pensiun (usia 65 tahun), dan tutup usia di Hilversum tahun 1999 (pada usia 83 tahun).
Pada tahun 1948 Pemerintah Belanda mengirim sebuah Orkes Philharmoni pimpinan Yvon Baarspul yang datang dari Negeri Belanda sekitar 46 orang, namun kemudian tahun 1952 ditolak agar kembali ke Belanda. Sebagian dari para musisi ini (yang kemudian menetap di Yogyakarta) merupakan cikal bakal pendidik musisi di Indonesia sejak tahun 1952 dengan berdirinya Sekolah Musik Indonesia (SMIND), dan tahun 1961 berubah menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta, yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) sejak 1984.
Kemudian Jos Cleber seorang pemusik pop klasik seperti Mantovani, bekerja sebagai pemimpin Orkes Cosmpolitan di Jakarta, karena pemainnya terdiri atas berbagai ras (kosmospolitan). Para pemain itu ada yang dari Rusia (Nicolai Varvolomeyeff), Hongaria (George Setet, Henry Tordasi), Filipina (Pablo, Sambayon), Indonesia (Sardi, Ismail Mz., Iskandar). Selama di Indonesia ia banyak memperhatikan seni gamelan.
Indonesia Raya versi Symphony garapan Jos Cleber terkait saat ada usaha perbaruan aransemen lagu kebangsaan ini. M Jusuf Ronodipuro, yang ketika itu menjadi Kepala RRI Studio Jakarta, tahun 1950 meminta agar Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) membuat aransemen Indonesia Raya, karena telah berhasil menggarap aransemen berbagai lagu Indonesia, antara lain Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Rangkaian Melati.
Jusuf Ronodipuro menjelaskan tentang Indonesia Raya, bagaimana lagu tersebut lahir dan diciptakan, serta menjelaskan makna lagu itu. Cleber berkomentar bahwa dia menangkap nuansa Marseillasse (lagu kebangsaan Perancis) dalam Indonesia Raya. Gubahan Jos Cleber itu direkam di RRI Studio Jakarta pada awal tahun 1951 dengan melibatkan semua pemusik dari orkes cosmopolitan tersebut, direkam dengan tape recorder Philips yang baru dimiliki RRI pada waktu itu. Kemudian tahun 1997 direkam ulang dengan tehnik digital di Australia oleh Victoria Philharmony pimpinan Adie MS. Komentar Bung Karno atas aransemen Jos CleberJusuf Ronodipuro kemudian mengajak Jos Cleber menghadap Presiden Soekarno ke Istana Merdeka untuk memperdengarkan hasil rekaman itu. Bung Karno langsung mengkritik gubahan Cleber. Menurut Jusuf, Bung Karno berkata, "Indonesia Raya itu seperti Bendera Merah Putih kita. Tidak perlu diberi renda-renda lagi." (Tulisan sumber dari Wikipedia. Foto, sumbangan Bapak Tossi)).



Sunday, December 25, 2011

Hasil Tes DNA Tan Malaka Diumumkan Januari 2012


 


 




TempoSen, 19 Des 2011
TEMPO.CO, Yogyakarta - Pengarang buku ‘Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia’, Harry A. Poeze, mengatakan hasil tes DNA terhadap sisa-sisa kerangka manusia yang diduga kuat adalah bekas tubuh Tan Malaka akan keluar pada Januari 2012. Menurut keponakan Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin, hasil tes DNA kedua dari laboratorium di Korea rencananya diumumkan ke publik pada bulan itu juga. »Setahun lebih saya menunggu-nunggu hasilnya. Saya di Indonesia hingga 20 hari mendatang juga untuk melihat pengumumannya ke publik,” kata Poeze seusai menjadi pembicara dalam bedah buku terbarunya ‘Madiun 1948, PKI Bergerak’ di sekretariat Institute Research for Empowerment (IRE) Yogyakarta pada Senin 19 Desember 2011.Hasil tes DNA itu, kata Harry, akan memastikan teka-teki lokasi eksekusi Tan Malaka dan menjadi bukti kuat tesisnya yang menduga pengarang buku Madilog itu dikuburkan di pemakaman sekitar Desa Selopanggung, Kediri.Sebelumnya, pada akhir 2009 lampau, hasil uji tes DNA yang dilakukan oleh tim dokter dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hanya menemukan 9 kecocokan dari 14 unsur yang semestinya positif sesuai dengan DNA keluarga Tan. »Memang sangat susah, isi makamnya hanya sisa-sisa kerangka, mirip debu. Hanya terlihat ada debu membentuk posisi manusia terlentang dengan tangan terikat ke belakang,” terang Poeze. Harry mengaku memiliki kesan khusus terhadap sejarah revolusi di Indonesia. Di sejarah revolusi Indonesia, dia menemukan kiprah generasi paling idealis dari bangsa Indonesia modern awal saat itu.»Semua tokoh pendiri bangsa ini adalah orang idealis. Tan, Soekarno, Hatta, Muso, dan lainnya selalu tegas memilih prinsip politik, kalah atau menang tak masalah,” kata Poeze. Dia mencontohkan dalam buku terbarunya, ada cerita ketegaran seorang Amir Syarifudin saat dieksekusi oleh pasukan Siliwangi bersama 10 petinggi Partai Komunis Indonesia pada 1948. »Sebelum ditembak dia menyeru ‘hidup kaum buruh, aku mati untukmu’,” ungkap Poeze. Menurutnya, semangat idealis tokoh-tokoh revolusi kemerdekaan ini pantas menjadi teladan bagi generasi bangsa Indonesia belakangan. Karena itu, ia beranggapan, sebaiknya penulisan sejarah revolusi Indonesia, yang selama ini lebih banyak melibatkan indonesianis asing, mulai diambil alih oleh peneliti Indonesia sendiri.»Sayangnya, banyak peneliti sini (Indonesia) tak menguasai banyak bahasa, jadi sulit teliti dokumen yang berbahasa Belanda, Jerman, Rusia dan lainnya. Apalagi, dana riset minim,” keluhnya. ADDI MAWAHIBUN IDHOM
Foto: Tan Malaka, Soekarni dan Nyonya Mangunsarkoro, Purwokerto awal 1946.