Thursday, December 22, 2011
Republik Indonesia Serikat hasil perjuangan diplomasi
Wednesday, December 14, 2011
Romusha di Biak
Coba bayangkan tahun 1943-1944 anda dijanjikan Jepang untuk sekolah ke Tokyo. Tapi ternyata dijadikan Romusha di Indonesia Timur. Badan tinggal pembalut tulang, sebagian besar meninggal dunia. Tahun 1945 dibebaskan pasukan Belanda dibawah pemerintahan NICA. Sebuah sudut pandang yang sedikit berbeda, bukan citra Hero tapi lebih pada Humanisme
Tuesday, December 13, 2011
8 orang Stovians
8 orang Stovians yang terkenal itu. Duduk dari ki-ka, Goenawan Mangoenkoesoemo, Latoemeten, Mohamad Arsjad, Angka Diprodjosoedirdjo. Berdiri dari ki-ka, Mohamad Saleh, Soesilo, Soetomo dan Goembrek.
Friday, December 09, 2011
Permintaan maaf Duta Besar Belanda di Indonesia
Tadi pagi tanggal 9 Desember 2011 bertempat didesa Balongsari, tepatnya pada monumen Rawagede dan taman makam pahlawan Rawagede diadakan upacara memperingati 64 tahun peristiwa Rawagede 9 Desember 1947. Hadir sejumlah tokoh yang mendapat undangan dan wartawan dalam dan luar negeri. Yang penting acara ini juga dihadiri oleh Duta Besar Belanda di Indonesia Tjeerd de Zwaan dan pengacara korban Rawagede Liesbeth Zegvel. Dalam kesempatan ini Duta Besar Belanda itu telah minta maaf.
Monday, November 28, 2011
PERSEKIN KOngres 1
Dari tanggal 25-27 Nobember 2011 berlangsung Kongres Sejarah Kedokteran Indonesia yang pertama. Kongres ini berlangsung di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Dihadiri anggota PERSEKIN dari Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, Solo, Palangkaraya, Medan dan lain-lain. Mereka berasal dari disiplin ilmu Kedokteran, Sejarah, Sosiologi, Antropologi, Psikologi dan masyarakat umum.
Sunday, November 20, 2011
Festival Tanjung Priok Menarik, Sayang Kurang Promosi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Minggu, 20 November 2011 23:30 WIB
Festival Tanjungpriok 2011 diselenggarakan Pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia. Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta Arie Budhiman, Ahad mengatakan, festival itu sebagai salah satu sarana promosi wisata kota dengan kereta api kepada masyarakat. Selain sebagai alat promosi wisata kota dengan kereta api, acara ini juga digelar untuk memperkenalkan salah satu titik dari 12 titik jalur destinasi wisata pesisir yang dicanangkan Wali Kota Jakarta Utara, yakni bangunan cagar budaya Stasiun KA Tanjung Priok. Festival dimulai dengan perjalanan delapan gerbong KA khusus wanita yang berangkat dari Stasiun KA Gambir menuju Stasiun KA Tanjung Priok. Setiap gerbong akan diisi oleh komunitas Tour Leader Cendrawasih, tim sepeda, Sekolah Yayasan Tuna Jakasampurna, Komunitas Jelajah Budaya, Mahasiswa Fakultas Seni Rupa IKJ, ASITA, Pramuka Museum Bahari, Komunitas Edan Sepur dan masyarakat umum lainnya. Lebih kurang 550 orang diikutsertakan pada kegiatan tersebut. "Kami ingin dengan festival ini, semakin banyak orang sadar bahwa di kota Jakarta ada wisata kota dengan KA. Ini merupakan wisata yang menarik," ujarnya. Sementara itu, menurut Ketua Asosisasi Pariwisata DKI Jakarta Erna Danu Ningrat dengan rencana tambahan periwisata KA, diharapkan dapat meningkatkan pariwisata yang datang ke Jakarta Utara. "Kita ingin warga Jakarta, tidak susah-susah dengan adanya stasiun KA pariwisata. Mau ke Tanjungpriok, dengan hanya naik bus," ujarnya yang menambahkan bahwa di DKI Jakarta ada 68 mal yang menjadi unggulan pariwisata.
Menurut Eko (37), warga Kampung Bahari, Tanjungpriok, Jakarta Utara, sepinya pengunjung disebabkan warga sekitar Stasiun Tanjungpriok, tidak mengetahui adanya festival. Selain itu juga, Festival Kereta Api yang mempromosikan 12 jalur destinasi pesisir Jakarta Utara, yang mempromosikan apa yang menjadi kebanggaan Jakarta Utara, kurang sosialisasi. "Saya lihat ini, hanya ada stand penjualan makanan saja dan lukisan. Bukan tentang 12 destinasi pesisir dan produk unggulan Jakarta Utara seperti sirup mangrove yang menjadi kebanggaan walikota Jakarta Utara," katanya.
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara
Festival Tanjungpriok 2011 diselenggarakan Pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia. Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta Arie Budhiman, Ahad mengatakan, festival itu sebagai salah satu sarana promosi wisata kota dengan kereta api kepada masyarakat. Selain sebagai alat promosi wisata kota dengan kereta api, acara ini juga digelar untuk memperkenalkan salah satu titik dari 12 titik jalur destinasi wisata pesisir yang dicanangkan Wali Kota Jakarta Utara, yakni bangunan cagar budaya Stasiun KA Tanjung Priok. Festival dimulai dengan perjalanan delapan gerbong KA khusus wanita yang berangkat dari Stasiun KA Gambir menuju Stasiun KA Tanjung Priok. Setiap gerbong akan diisi oleh komunitas Tour Leader Cendrawasih, tim sepeda, Sekolah Yayasan Tuna Jakasampurna, Komunitas Jelajah Budaya, Mahasiswa Fakultas Seni Rupa IKJ, ASITA, Pramuka Museum Bahari, Komunitas Edan Sepur dan masyarakat umum lainnya. Lebih kurang 550 orang diikutsertakan pada kegiatan tersebut. "Kami ingin dengan festival ini, semakin banyak orang sadar bahwa di kota Jakarta ada wisata kota dengan KA. Ini merupakan wisata yang menarik," ujarnya. Sementara itu, menurut Ketua Asosisasi Pariwisata DKI Jakarta Erna Danu Ningrat dengan rencana tambahan periwisata KA, diharapkan dapat meningkatkan pariwisata yang datang ke Jakarta Utara. "Kita ingin warga Jakarta, tidak susah-susah dengan adanya stasiun KA pariwisata. Mau ke Tanjungpriok, dengan hanya naik bus," ujarnya yang menambahkan bahwa di DKI Jakarta ada 68 mal yang menjadi unggulan pariwisata.
Menurut Eko (37), warga Kampung Bahari, Tanjungpriok, Jakarta Utara, sepinya pengunjung disebabkan warga sekitar Stasiun Tanjungpriok, tidak mengetahui adanya festival. Selain itu juga, Festival Kereta Api yang mempromosikan 12 jalur destinasi pesisir Jakarta Utara, yang mempromosikan apa yang menjadi kebanggaan Jakarta Utara, kurang sosialisasi. "Saya lihat ini, hanya ada stand penjualan makanan saja dan lukisan. Bukan tentang 12 destinasi pesisir dan produk unggulan Jakarta Utara seperti sirup mangrove yang menjadi kebanggaan walikota Jakarta Utara," katanya.
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara
Thursday, November 10, 2011
Pahlawan Nasional 2011
Siang tadi tanggal 10 November 2011 bertempat di Istana negara Presiden SBY telah menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada 7 tokoh, yaitu Sjafroedin Prawiranegara, Idham Chalid, HAMKA, Sarmidi Mangunsarkoro, Ketut Pudja, Pakubuwono ke X dan Kasimo
Sunday, October 30, 2011
Pengakuan tentara Belanda soal Rawagede
Jujur Mulai Hari Ini
Bertempat di gedung Museum Kebangkitan Nasional jalan Abdurachman Saleh Jakarta, Paguyuban Keluarga Besar Pendiri Boedi Oetomo pada hari Minggu 30 Oktober 2011 mengadakan acara peringatan "Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928). Acara Paguyuban yang dipimpin Ir Wargono ini mengambil thema 'Jujur Mulai Hari Ini" . Acara cukup ramai dan dihadiri beberapa orang terkenal seperti Jenderal Indrianrtono Sutarto dan sosioloog Imam Prasodjo (lihat foto)
Tuesday, October 25, 2011
Mantan Duta Besar Belanda Van Dam
Saturday, October 22, 2011
Ibu Irna Hadi Soewito: Pengibar Bendera Proklamasi adalah Latief dan Soehoed
Seorang sejarawan wanita terkenal yang banyak menulis buku yaitu Ibu Irna Hanny Nastoeti Hadi Soewito juga hadir pada acara peluncuran dan bedah buku tanggal 15 Oktober 2011, "Latief Hendraningrat Sang Pengibar bendera Pusaka 17 Agustus 1945" yang di tulis oleh Dr Nidjo Sandjojo. Buku yang ditulis Ibu Irna misalnya "Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945, Chaerul saleh, BAPERPI, Pertempuran Surabaya (3 jilid), Sejarah AURI dll". Ibu Irna yang adalah sahabat dekat dari Ibu SK Trimurti juga bercerita wanita ketiga dalam foto pengibaran bendera 17 Agustus 1945 yang di produksi Frans Mendur. Di foto itu yang terlihat dari belakang adalah Ibu Fatmawati, Ibu Trimurti dan Ibu Mudjinah. Ibu Mudjinah almarhum (terakhir sebagai guru dan tinggal di Bogor) adalah aktifis pejuang wanita dalam revolusi Indonesia. Mengapa tidak banyak yang menulis ya ? Dalam foto diatas tampak Ibu Irna sedang memaparkan penuh keyakinan soal peristiwa Proklamasi, sehingga sangat jelas bahwa pengibar bendera Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah Latief Hendraningrat dan Soehoed
Subscribe to:
Posts (Atom)







