Saturday, October 01, 2011

Legende Soedirman


Jenderal Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916 meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai Panglima dengan pangkat Letnan Jenderal TNI yang pertama dan termuda (31 tahun) Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang pembelaan kemerdekaan RI. Soedirman dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem, adalah keturunan Wedana Rembang. Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem. Soedirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa. Kemudian ia melanjut ke HIK (Holandsche Indische Kweekschool atau sekolah guru) Muhammadiyah, Surakarta tapi tidak sampai tamat. Soedirman saat itu juga giat di organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di sekolah HIS (Hollandsch Inlandsche School) Muhammadiyah di Cilacap. Ketika zaman pendudukan Jepang yahun 1943, ia mendapat pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Setelah menyelesaikan pendidikan diangkat menjadi Komandan Batalyon PETA di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR). Soedirman dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Pada masa pendudukan Jepang, sebelum menjadi tentara PETA, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.  Soedirman mendapat prestasi pertamanya sebagai tentara setelah keberhasilannya mengambil alih senjata pasukan Jepang secara damai di Banyumas, Jawa Tengah. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Perang besar pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. Tepatnya pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945. Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Letnan Jenderal oleh Presiden Soekarno. Saat terjadinya Agresi Militer II Belanda 19 Desember 1948, Ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta, diduduki oleh tentara Belanda. Soedirman memimpin pasukannya untuk melakukan perang gerilya terhadap Belanda. Dalam perlawanan tersebut, Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Walaupun begitu dia ikut terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, memimpin para tentaranya untuk tetap melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda secara gerilya. Penyakit yang diderita Soedirman saat berada di Yogyakarta semakin parah. Paru-parunya yang berfungsi hanya tinggal satu karena penyakitnya. Saat itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Saat gerilya, Soedirman berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah dan dalam kondisi hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag Jenderal Soedirman kembali ke Yogya. Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki,








Dari Politik ke Kebathinan

Oleh SK Trimurti (dalam majalah Tempo 21 April 1990, http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1990/04/21/MEM/mbm.19900421.MEM20311.id.html#
PAGI HARI, 17 Agustus 1945. kawan-kawan saya datang beramai -ramai menjemput. "Yu Tri, ayo ke Pegangsaan Timur 56, ke rumah Bung Karno untuk mendengarkan proklamasi," kata salah seorang. "Mengapa tidak ke lapangan Ikada seperti rencana semula?" "Ah, diam sajalah dulu. Di lapangan Ikada sudah banyak serdadu Jepang dengan senjata lengkap. Nanti kita ditembaki kalau ke sana." Segera saya berangkat ke Pegangsaan Timur. Jam 10 pagi, saya lihat sudah banyak orang berkumpul. Saya tak sempat lagi bertanya-tanya mengapa tempat proklamasi beralih sebab keterangan kawan-kawan agaknya masuk di akal. Apalagi saya lihat masih banyak kawan-kawan yang membawa kelewang dan senjata tajam lainnya. Mereka terutama dari Klender. Segalanya berjalan spontan, tanpa persiapan. Ketika kami berbaris, sempat juga saya lihat orang. orang Belanda di kiri -kanan rumah Bung Karno mereka mengintip dari pagar. Mereka menyaksikan tingkah laku kami dengan sikap melecehkan. Barangkali mereka menyangka kami sedang bermain-main. Mereka melempar senyum ngenyek, mengejek. Tapi saya tak peduli. Tak lama kemudian Bung Karno, Zus Fatmawati dan Bung Hatta datang. Pakaian dan wajah mereka sama lusuhnya karena semalam suntuk tidak tidur. Tiba-tiba, tanpa komando apa-apa, suasana jadi hening. Dan tibalah saatnya sang Dwiwarna dikerek. Kami saling memandang. Tak ada persiapan siapa yang harus mengerek bendera itu. "Yu Tri kerek bendera itu," kawan-kawan mendorong "Ndak mau. Lebih baik Saudara Latief (Hendraningrat) saja. Dia kan dari Peta," tampik saya. Saya kira, pejuang seperti Latief lebih layak untuk maju karena dialah yang bertempur di medan juang. Maka, Latief pun maju mengerek bendera Merah Putih, didampingi Soehoed Sastrokoesoemo. Saya berjejer dengan Zus Fatmawati, berdiri di depan bendera, berhadap-hadapan dengan Bung Karno dan Bung Hatta -- yang berdiri di beranda yang letaknya lebih tinggi dari kami. Hati saya berdebar-debar ketika melihat sepotong Merah Putih jahitan Zus Fat itu berkibar. Teks Proklamasi yang diketik oleh suami saya itu akhirnya dibaca oleh Bung Karno dengan suara rendah, perlahan-lahan, dan khidmat. * * *
Foto: Soehoed Sastrokoesoemo saat menjadi team Bung Karno pada tahun 1961, guna merancang Tugu Nasiona yang kemudian bernama Monumen Nasional (MONAS)

Wednesday, September 28, 2011

Dasman Djamaludin menulis tentang Sumber Sekunder




















Ketika cucu Abdul Latief Hendradiningrat, pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1945, Arif Wicaksono Hendradiningrat mengajak saya agar sebagai sejarawan universitas sekelas UI seharusnya tidak perlu meragukan lagi kebenaran fakta sejarah mengenai pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1945, yaitu kakeknya dan Soehoed., saya hanya terdiam lama. Apalagi ditambah kalimat “Keluarga kami, sudah lama bersabar atas pembohongan publik oleh ILYAS KARIM. Puncaknya yaitu ketika diadakan acara oleh stasiun TVONE di Gedung Juang 31, padahal disitu ada ruangan yang memuat siapa pelaku dan saksi sejarah mengenai Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945.”
 Mengapa saya terdiam lama? Karena saya mengalami hal-hal sebagai berikut:
  1. Saya mendengar sendiri dari Burhanuddin Muhammad Diah (B.M.Diah) ketika menulis buku beliau: Butir-Butir Padi B.M.Diah (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), betapa geramnya beliau membaca Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, yang menganggap yang merumuskan materi Pancasila ialah Mr.Muh.Yamin. Buku ini bukan main-main diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 1975 dalam enam jilid dan penulisnya Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo, Dr.Marwati Djoened Poesponegoro dan Dr.Nugroho Notosusanto. Bahkan menurut berita, Presiden Soeharto waktu itu memerintahkan agar buku tersebut dipergunakan di sekolah-sekolah pemerintah. Menurut B.M.Diah sejarawan-sejarawan Indonesia masih dipengaruhi sejarawan Barat atau didominasi pandangan sejarawan Barat, karena menurut F.A. Sutjipto dalam kata pengantarnya pada jilid IV, bahwa sebagian besar sumber adalah sumber sekunder walaupun di sana sini juga dilakukan sumber primer. Sehingga saya menganggap ini sebuah kekeliruan besar, karena kelihatannya sumber primer B.M.Diah tidak terlalu diperhitungkan dalam menyusun Buku Sejarah Nasional ini, sementara sumber primernya masih ada (hidup).
  2. Tentang buku yang saya tulis sendiri: Butir-butir Padi B.M.Diah (1992), meski Toeti Kakiailatu menuliskannya kembali dengan judul B.M.Diah Wartawan Serba Bisa tahun 1997, sumber primer sama yaitu B.M.Diah tetapi situasi dan kondisi berbeda. Hal ini terlihat dari komentar Wartawan Senior H.Rosihan Anwar ketika meresensi buku Toeti Kakiailatu di dalam Majalah Ggatra, 13 September 1997 halaman 130 bahwa: “Toeti Kaiailatu, mantan wartawan Tempo, menulis biografi B.M.Diah Wartawan Serba Bisa (1997).Lima tahun yang lalu B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, buku yang menguraikan riwayat hidup Diah, sebagaimana diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin. Maka, kedua buku itu mengandung bahan yang kurang lebih sama.” Di bahagian lain komentarnya Rosihan Anwar mengatakan:.....”Kendati dalam buku ini saya mendeteksi berbagai ketidakcermatan dalam keterangan Diah—yang diwawancarai oleh Toeti ketika mulai sakit-sakitan dan ingatannya tidak lagi begitu sempurna.” Jadi sumber primer yang sama, bisa juga mempengaruhi informasi ketika sumber itu sudah sakit-sakitan. Saya mewawancarai B.M.Diah ketika usianya 75 tahun dan masih sehat, baik lahir maupun bathin.
  3. Ketika saya berkunjung ke rumah H.Asnawi Mangku Alam, mantan Gubernur Sumatera Selatan, hari Minggu, 12 Januari 1997 beliau menunjukkan buku nya atas gugatan buku H.Alamsyah Ratu Perwiranegara berjudul: “ Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu” yang ditulisnya tahun 1996 dan telah diberikannya kepada Alamsjah tetapi tidak memperoleh jawaban. Barulah setelah saya menulis di surat pembaca di Tabloid Swadesi edisi No.1483 Tahun 1997, Alamsjah menjawab di Majalah Tajuk No.9 Tahun I,Maret 1997 halaman 54 – 57. Saya hanya ingin menyatakan bahwa di masa yang sama di mana nara sumber primernya ada, masih ada perbedaaan dalam menuliskan sejarah. Apalagi apabila sumber primernya tidak ada? Itulah sebabnya saya menahan diri dulu untuk menyatakan setuju dan percaya karena masih ada orang lain mengklaim dialah yang mengibarkan bendera pusaka tanggal 17 Agustus 1945. Jadi saya memberi kesempatan kepada masing-masing pihak, sekarang yang saya tahu masih tiga orang, membuktikan sungguh-sungguh data siapa yang otentik, shahih dan dapat dipercaya. Ya, mau tidak mau, ketiganya harus duduk di satu meja. Jadi melalui proses yang panjang, apalagi kalau membuktikan sumber sekunder, ya ingat lagi kata Pak Asvi, siapa sejarawannya, dan di mana dia bekerja ikut mempengaruhi tulisannya.

Latief Hendraningrat Pengibar Bendera Pusaka


Abdul Latief Hendraningrat (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). adalah seorang prajurit PETA (Pembela Tanah air) berpangkat Cudanco. Dia adalah pengerek bendera Sang Saka Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56. Untuk ini Latif didampingi Suhud seorang anggota Pelopor. Pasukan PETA dimana Latief berada, bermarkas di bekas markas pasukan kavaleri Belanda di Kampung Jaga Monyet, yang kini bernama jalan Suryopranoto di depan Harmoni. Setelah bergabung dengan TNI, karier beliau menanjak terus sampai berpangkat Mayor Jenderal, bahkan sempat menjadi Rektor IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada tahun 1964-1965.
Telah terbit buku tentang Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945 yang ditulis olen Dr Nidjo Sandjojo M.Sc yang tidak lain adalah menantu termuda dari Pak latief Hendraningrat. Diterbitkan oleh PT Pusataka Sinar harapan.

Wednesday, December 23, 2009

kuur house


Di Scheveningen Den Haag negeri Belanda ada sebuah bangunan yang kini dipakai Hotel. Pada masa lalu tepatnya dalam rangka Konperensi Meja Bundar gedung ini dipakai untuk perundingan Indonesia Belanda yang disaksikan PBB guna penyelesaian Dekolonisasi di Indonesia. Pada hari Senin tanggal 21 Desember 2009 dalam suasana lingkungan bersalju, Pak Rosihan Anwar melakukan Napak Tilas disini. Baginya tempat ini merupakan situs penting tempat berlangsungnya perhelatan bangsa itu pada masa lalu. Saat itu sebagai wartawan "Pedoman" dirinya diundang pemerintah Belanda untuk meliput jalannya konperensi yang berlangsung dari bulan Agustus sampai November 1949. Nama gedung ini dahulu "Kuur House" kira-kira artinya rumah berobat. Gedung yang dibangun pada abad ke 19 ini berada dipantai dekat kota Den Haag. Pantai itu dikenal sebagai daerah Scheveningen. Pak Rosihan dengan sedikit romantik bercerita : "Dahulu pada tanggal 17 Agustus 1949, Wakil Presiden, Perdana Menteri RI mengadakan perayaan 17 Agustus yang keempat kalinya diruangan ini. Beliau berpidato dimana antara lain dikatakannya, 4 tahun lamanya kami berjuang dimana kami mengalami kekalahan-kekalahan, tapi kami tidak mau mengaku kalah". Berhenti sejenak pada ceritanya Pak Rosihan termenung, memandang jauh keruang resepsi Kuur House yang kini adalah restoran hotel seolah jago tua wartawan ini berada menembus waktu lampau dan benar-benar berada ketika konperensi tersebut berlangsung. Meja Bundar berakhir dengan peristiwa "Penyerahan Kedaulatan" yang berlangsung diistana Dam, Amsterdam. Kami akan berkunjung kesana besok rencananya tanggal 25 Desember 2009, semoga tidak turun salju......

Sunday, December 20, 2009

gambar penuh misteri



Gambar-gambar aneh ini ada di Kraton Kanoman Cirebon. Keempatnya merupakan keramik ex Delft (Belanda) yang ditempel didinding pagar luar. Kelihatannya bukan coretan berasal dari Indonesia, tapi dari luar negeri. Sedikit mengundang pertanyaan gambar kanan atas. Tampak lelaki bersorban memotong kepala seorang wanita dan menaruhnya diatas baki yang dipegang wanita lain. Sungguh sebuah gambar yang kurang enak dilihat. Ada yang bisa menjelaskan ?

Salju di Den Haag

Raportase dari Nederland
Tanggal 19 Desember 2009 bersama wartawan senior Rosihab Anwar, putri dan anak menantunya, saya berangkat ke Belanda. Kami tiba di Sciphol pada keesokan harinya tanggal 20 Desember 2009. Menyambut Bapak Duta Besar Fanny Habibie dan Bapak Firdaus. Adapun, kunjungan ini terkait pada undangan Radio Nederland (RNW) kepada Bapak Rosihan Anwar untuk ikut memperingati 60 th KMB dan Penyerahan Kedaulatan kepada RIS. Ternyata di Belanda sedang turun salju cukup hebat. Ini untuk pertama kali seumur hidup saya mengalami salju. "Sungguh sangat romantis" Seperti tampak dalam foto adalah halaman depan "Wisma Tamu" di Wassenar dimana saya tinggal (difoto dari kamar saya). Bapak Rosihan bersama anak dan menantunya menginap, di Wisma Duta tidak jauh disebarang jalan.

Friday, December 18, 2009

Matahari terbit tanggal 1 Januari 1950

Proses panjang yang menyita tenaga dan pikiran selesai sudah pada tanggal 27 Desember 1949 yaitu Penyerahan Kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Kalau di Belanda berlangsung di Istana Dam oleh Ratu Belanda Juliana kepada Perdana Menteri RIS Mohamad Hatta, di Jakarta dari Wakil Mahkota Belanda Lovink kepada Sri Sultan Hamengkubuwono. Sementara sejak tanggal 17 Desember 1949 Bung Karno mantan Presiden RI telah dinobatkan (begitu istilahnya waktu itu) di Yogyakarta menjadi Presiden RIS. Publikasi Negara baru ini menjadi perhatian publik. Salah satu yang menarik yang mungkin sudah dipersiapkan lebih dahulu, dibuatlah Almanak atau Penanggalan pertama untuk tahun 1950. Pada gambar awal untuk tanggal 1 Januari 1950, terpampang gambar Presiden RIS Soekarno sedang berpidato. Gambar inbi menjadi simbol kebanggaan tak terhingga yang banyak digantung diruang muka rumah penduduk. Semua bangga kepada Presidennya mungkin pada saat itu. Kemana Republik Indonesia yang sudah diakui kedaulatannya itu ? Republik Indonesia selanjutnya berlaku sebagai Negara Bagian. Untuk ini pada tanggal yang sama dengan pengakuan kedaulatan RI tersebut, diangkatlah Mr Asaat (mantan ketua KNIP) menjadi Pemangku Jabatan Presiden RI. Pelantikan dilakukan oleh Presiden RIS, Ir Soekarno. Sejak itu Sang Merah Putih berkibar tanpa gangguan diseluruh peloksok tanah air, kecuali Irian Barat. Merah Putih resmi di Irian Barat setelah PEPERA tahun 1962. Inilah sejarah......

Friday, November 20, 2009

Dukungan masyarakat Belanda pada RI

Pada tahun 1949, ketika para pemimpin Republik Indonesia ditawan di Bangka, tidak sedikit dari masyarakat Belanda yang berdemo kepada pemerintahnya dan menuntut dibebaskannya para tawanan politik tersebut. Tampak pada gambar para anggota Kongres Rakyat Anti Imperialisme sedang bedemo dikota Den Haag. Banyak dari mereka adalah masyarakat Belanda Totok.

Tuesday, November 10, 2009

Negara Pasundan Versi Kartalegawa



Oleh H. ROSIHAN ANWAR Wartawan Senior

SETELAH meliput Konperensi Malino sebagai wartawan Merdeka pertengahan Juli 1946, saat Letnan Gubernur Jenderal Van Mook memulai langkah ke arah pembentukan Negara Indonesia Timur sebagai pengimbang Republik Indonesia, bulan November saya terkejut karena di Bogor didirikan Partai Rakyat
Pasoendan (PRP) yang menentang RI. Penggerak di belakang partai itu ialah eks Bupati Garut Raden Soeria Kartalegawa. Dia tidak suka dengan perjuangan kemerdekaan. Dia ingin kembali ke zaman feodal, tatkala kaum menak punya kedudukan istimewa dan seorang regent (bupati) dilayani oleh rakyat selaku abdi setia. Pada hematnya Urang Sunda juga kepingin balik ke zaman baheula yang bagus. Mereka tidak mau diperintah oleh seorang Gubernur Republik. Urang Sunda masih tergantung pada dalam-dalamnya. Maka tanggal 18 November 1946 dibentuklah PRP. Sedikit sekali orang yang menghadiri rapat pendiriannya. Yang datang pun tidak tahu apa tujuan rapat. Kendati begitu kejadian itu mendapat publisitas dalam mingguan yang diterbitkan oleh Dinas Penerangan Belanda (RVD) Pandji Rakjat yang dipimpin oleh pegawai Nica-Belanda Almasawa, keturunan Arab Palembang.

NEVIS Intel Belanda

Saya tidak tahu banyak tentang perkembangan politik di kalangan Urang Sunda waktu itu, sehingga sedikit informasi yang saya peroleh berasal dari penerbitan Nica seperti Pandji Rakjat. Baru kemudian saya baca dalam buku "Nationalism and Revolution in Indonesia" karangan George McTurnan Kahin (1952 - 238) bahwa Kartalegawa mendapat ide untuk membentuk PRP dari eks perwira KNIL Kolonel Santoso, penasehat politik Van Mook. Pelaksanaannya dibantu oleh intel militer Belanda NEVIS. Karena di zaman kolonial Soeria Kartalegawa telah mempunyai riwayat buruk, Van der Plas menamakan fraudeur alias koruptor, maka bukanlah dia yang menjadi ketua PRP. Fungsi ini diberikan kepada Raden Sadikin, pegawai pusat distribusi pangan milik Belanda di Bandung Utara. Sedangkan sebagai sekretaris dan bendahara ditunjuk dua orang yang sebelum perang menjadi sopir dan di zaman Jepang mandur kebun sayuran. Untuk anggota-anggotanya diusahakan "paksaan halus" dan semata-mata di daerah yang dikuasai oleh tentara Belanda. Soeria Kartalegawa dan PRP berusaha mewujudkan sebuah negara Sunda merdeka yang kelak akan jadi bagian dari Negara Indonesia Serikat dan sama sekali terlepas dari Republik Indonesia. Usaha ini mendapat dukungan Residen Belanda di Bandung M. Klaassen yang menulis sebuah laporan tanggal 27 Desember 1946.

Politik adu domba

Residen Preanger itu menulis dalam laporannya bahwa sejak berabad-abad lamanya ada persaingan antara orang-orang Jawa dan Sunda. Ini akibat perbedaan dalam adat, kebiasaan dan mentalitas. Oleh karena Republik dipimpin oleh orang-orang Jawa dan Minangkabau, maka menurut Klaassen PRP itu bisa dipandang sebagai suatu "gerakan rakyat spontan." Residen merasa berbahagia di Priangan timbul suatu gerakan anti-Republik. Banyak pejabat Belanda di Jawa Barat setuju dengan Klaassen. Asisten-Residen M. Hins di Bogor mengatakan gerakan PRP harus didukung betapa pun di antara pimpinannya terdapat orang yang tidak seluruhnya bisa dipercaya, Cuma mengutamakan kepentingan diri sendiri dan bukan karena mencintai tanah Pasundan. Pendapat ini juga disetujui oleh Gubernur Abbenhuis. Akan tetapi Letnan Gubernur Jenderal Van Mook tidak setuju dengan PRP,
partai yang tidak berarti dan dipimpin oleh "tokoh korup oud-regent van Garoet".

Kup di Bogor

Kartalegawa menjadi nekad setelah melihat sikap Van Mook. Dengan bantuan pegawai-pegawai BB Beladna setempat dia mengangkat dirinya sebagai ketua PRP. Pada sebuah pertemuan taggal 4 Mei 1947 di Bandung yang dihadiri oleh 5000 orang dia memproklamasikan Negara Pasundan. Kendati dilarang oleh Van Mook pejabat Belanda setempat toh menyediakan truk-truk untuk mengangkut para pengikut Kartalegawa ke Bogor. Di sini mereka disambut baik oleh Kol. Thompson, komandan tentara Belanda dan Residen Statius Muller. Kemudian diulang lagi upacara proklamasi Negara Pasundan. Karena tindakan tadi pers Republikein menyatakan Soeria Kartalegawa sebagai musuh negara nomor satu dan memberikan kepadanya penamaan: "Soeria-Nica-Legawa". Ketika akhir bulan Mei Presiden Soekarno datang dari Yogya meninjau Jawa Barat ternyata sebagian besar rakyat Sunda menolak Kartalegawa. Bung Karno berpidato di berbagai tempat dalam bahasa Sunda. Rakyat menyambutnya dengan penuh semangat. Dalam rombongan Presiden ikut anggota parlemen Belanda mewakili Partai Buruh Lambertus Nico Palar yang datang meninjau Indonesia. Palar yang kelak jadi wakil Republik di PBB tahun 1948-50 mengatakan Soekarno masih didukung oleh banyak rakyat dan Soeria Kartalegawa dianggap pengkhianat. Tapi ini tidak mencegah Kartalegawa melancarkan gerakan kup di Bogor tanggal 23 Mei dengan menduduki kantor-kantor Republik serta stasiun, kemudian meminta perlindungan Kol. Thompson dan Residen Statius Muller yang diberikan dengan segala senang hati. Di pihak Republik semakin kental perasaan bahwa di balik tindakan gerakan Pasundan bersembunyi tangan Belanda yang jahat dan Soeria Kartalegawa hanyalah alat politik kolonial Belanda

Thursday, November 05, 2009

Hasil K.M.B diterima pleno KNIP


Akhirnya bertempat di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, pada tanggal 7-12 Desember 1949 dapat dilangsungkan Pleno Sidang Komite Nasional Pusat (KNIP) Republil Indonesia. Agenda sidang adalah untuk membicarakan hasil-hasil K.M.B. Presiden R.I Soekarno membuka sidang parlemen R.I ini dan Perdana Menteri Hatta, memberikan penjelasannya. Amanat Presiden Soekarno antara lain : "Berfikirlah dinamis. Pandanglah hasil K.M.B itu sebagai alat perdjuangan. Kami minta KNIP ini dengan fikiran sedalam-dalamnja dan rasa tanggung djawab jang sepenuhnja terhadap tanah air mengambil keputusan, sesudah mempertimbangkan masak-masak, apakah dengan hasil K.M.B itu dapat ditjapai tjita-tjita kita. Apakah dengan hasil K.M.B itu semakin dekat atau semakin djauh bangsa Indonesia dari tjita-tjita nasionalnja. Nasib tanah air kita tergantung dalam tangan tuan-tuan" Presiden kemudian meninggalkan Siti Hinggil. Beliau sempat meninggalkan kata-kata : "Kalau hasil-hasil K.M.B tidak diterima, sungguh saja tidak tahu apa jang akan terdjadi........."Setelah perdebatan sengit selama 7 hari maka akhirnya pada tanggal 15 Desember 1949, putusan sidang, menerima hasil K.M.B dengan suara 236 pro dan 62 kontra.
Diambil dari Lukisan Revolusi, diterbitkan oleh KEMPEN tahun 1950.