Friday, February 17, 2012
Kontroversi Pengibar Bendera 17 Agustus 1945
Karena Suhud (foto tengah) saat Proklamasi dibuat dari belakang, cirinya yang tidak bisa tertukar dengan Ilyas Karim (foto kiri) adalah tinggi lehernya. Ilyas karim memiliki tinggi leher yang pendek, sedangkan Suhud tinggi lehernya panjang. Sehingga pada foto kanan (foto pendamping Latif Hendraningrat pengibaran bendera saat Proklamasi) tidak mungkin Ilyas Karim...Itu adalah Suhud. Bayangkan kalau itu Ilyas Karim maka dari belakang lehernya tidak kelihatan.
Bertemu dengan Ilyas Karim
Minggu, 04-09-2011 11:03:27 oleh: Dasman Djamaluddin Kanal: Peristiwa sumber:http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=19293&post=1
Sabtu sore sekitar pukul 17 WIB, tanggal 3 September 2011, tergerak hati saya untuk menemui Ilyas Karim yang mengaku salah seorang pengibar bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 di rumahnya Jalan Rajawati Barat Kalibata no.7 Jakarta Selatan. Semua orang sudah tentu tahu, bahwa rumahnya tidak seperti dibayangkan, hanya sebuah rumah sederhana di pinggiran rel kereta api, di mana disitulah tinggal seorang Pejuang 45 berpangkat Letnan Kolonel (Purn).
Saya menelusuri jalan itu dan menemui Ilyas Karim sedang duduk di beranda rumahnya. Baru pertama kali saya bertatap muka dengan beliau. Usianya sudah tidak muda lagi, 84 tahun akunya. Lahir di Batu Sangkar, Sumatera Barat, 31 Desember 1927. Meskipun demikian, tubuhnya masih sehat dan daya ingatnya masih kuat. "Sebegitu pentingkah orang ini?," tanya saya dalam hati. Rupanya Ilyas Karim sedang dilanda hujatan karena mengaku sebagai orang yang berpakaian putih-putih pada waktu mengibarkan bendera Merah Putih pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945. Bahkan mengibarkan bendera itu bersama chudancho Singgih. Hal ini sudah tentu bertolak belakang dengan pendapat beberapa orang atau sumber yang mengatakan kedua orang itu adalah chudanco Abdul Latief Hendradiningrat dan Soehoed dari Barisan Pelopor. Lha mana yang benar?
Ketika saya berkunjung itu saya tidak melihat siapa yang benar. Tetapi buat saya Ilyas Karim adalah sumber pertama yang masih hidup. Di dalam penelitian, kita selalu memakai sumber pertama dan kedua. Biasanya sumber pertama lebih kuat dari pada sumber kedua. Tetapi kali ini entahlah. Bagaimana pun memang harus melalui proses. Sehingga dalam ilmu penelitian tidak ada istilah meluruskan. Jika istilah ini dipakai maka selesailah proses penelitia itu karena ada pengklaiman pembenaran oleh seseorang. Di dalam proses penelitian yang terjadi adalah penemuan-penemuan sumber yang baru. Bisa saja yang dikatakan benar hari ini akan digugurkan oleh penemuan baru berikutnya dan berikutnya. Jadi tidak ada istilah pelurusan.
Ilyas Karim adalah Pejuang 45. Sejak tahun 1936, ia sekeluarga pindah ke Jakarta. Ayahnya pernah menjabat Demang (Camat) Matraman Jakarta, namun di Zaman Jepang, ayahnya ditangkap, dibawa ke Tegal dan dibunuh Jepang di sana. Sebelum bulan Agustus 1945, Ilyas Karim bergabung dengan Angkatan Pemuda Islam (API) yang bermarkas di Jalan Menteng 31 Jakarta. Masuk TNI-AD dan pensiun dengqn pangkat Letnan Kolonel. Pernah ditugaskan sebagai Pasukan Perdamaian di Lebanon dan Vietnam. Beliau sekarang adalah juga Ketua Umum Yayasan Pejuang Siliwangi-Indonesia (YAPSI) yang bermarkas di Komplek Kodam Jaya Jatiwaringin. Melihat perjuangannya selama ini saya belum menyimpulkan apakah yang dikatakan Ilyas Karim benar atau salah. Saya hanya melihat dari sisi sumber pertama yang masih hidup. Sejarahlah nanti yang bisa membuktikan siapa pengibar bendera Merah Putih sebenarnya.
----------------------------
Sdr Dasman Djamaluddin M.Hum adalah Sejarawan UI yang juga menyandang profesi Sarjana Hukum. Sangat berminat sekali ihwal Ilyas Karim terutama yang terkait kontroversi pengibar bendera Proklamasi agar di seminarkan. Semoga terlaksana. Foto diatas sdr Dasnan ketika sedang meneliti bersama Sdr Edi Suardi M.Hum direktur Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta.
Ilyas Karim dalam acara Democrazy
Acara TV Democrazy diatas diadakan pada tanggal 14 Agustus 2011. Kemungkinan besar acara inilah yang banyak dilihat orang dan menimbulkan kontroversi tentang Ilyas Karim pengibar bendera pusaka saat Proklamasi 17 Agustus 1945 atau bukan ?. Seyogyanya persepsi yang baik dan benar melalui pembuktian ilmiah kesejarahan dapat menguak siapa sebenarnya pengibar bendera Proklamasi. Bukan untuk semata menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar tapi lebih dari itu untuk memantapkan wujud historiografi sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya peristiwa sejarah sekitar Proklamasi....
Sejarawan Asvi Marwan Adam: Ilyas Karim berbohong mengaku kibarkan bendera

Sabtu, 03-September-2011 (16:19:39 WIB) Khresna Guntarto (http://m.gresnews.com/baca/161939-sejarawan-ilyas-karim-berbohong-mengaku-kibarkan-bendera)
Jakarta - Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Marwan Adam, membenarkan pendapat Sekjen DPP Legiun Veteran, Laksamana Muda TNI (Purn) Wahyono S K, yang menyebut Ilyas Karim (84) bukanlah pengibar bendera merah putih pada 17 Agutus 1945, di Pegangsaan Timur No.56, Jakarta, setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi.
"Iya, saya sependapat dengan Sekjen Legiun Veteran ini. Saya sudah pernah tampil dalam suatu acara di Jak TV bersama dengan Ilyas Karim. Saya meragukan apa yang disampaikan Ilyas Karim ini," kata Asvi saat dihubungi gresnews.com, Sabtu (3/9).
Menurut Asvi, pendapatnya itu sudah disampaikan sekitar satu atau dua tahun lalu di stasiun televisi swasta lokal itu. Namun, Asvi mengaku heran, belakangan ini Ilyas Karim kembali diangkat oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional.
"Saya heran tiba-tiba salah satu televisi, yakni TV One pada 17 Agustus menampilkan Ilyas Karim sebagai tokoh acara 17 Agutus di Tugu Proklamasi. Itu yang menyebabkan dia mendapatkan hadiah," tutur Asvi.
Asvi menilai, Ilyas telah berbohong karena beberapa pernyataan-pernyataannya kurang tepat. Misalnya, pengakuan Ilyas yang ikut membawa Soekarno ke Rengas Dengklok.
"Sepengetahuan saya nama Ilyas Karim itu tidak ada. Tidak ada pemuda bernama Ilyas Karim. Itu kan pengakuan baru muncul setelah semua saksi mata meninggal," kata Asvi.
Selain itu, sambung Asvi, kejanggalan juga terletak pada pengakuan Ilyas yang tinggal di Asrama Menteng bersama Dari Laskar Hizbullah. "Setahu saya tidak ada Laskar Hizbullah yang tinggal di sana," katanya.
Lalu, mengenai pengakuan Ilyas yang menyebut pengibaran bendera dibantu oleh Singgih. Menurut Asvi nama Singgih memang tercatat dalam jajaran pasukan PETA (Pembela Tanah Air). Tapi, Singgih bukan pengibar bendera.
"Memang ada tapi bukan pengibar bendera," kata Asvi.
Oleh sebab itu, disimpulkan Asvi, keterangan Ilyas Karim tidaklah tepat. Kendati demikian, sambungnya, ketidaktepatan ini untungnya sudah pernah diungkap ke publik oleh televisi swasta yang mengangkat kehadiran Ilyas.
"TV One sudah meralat dengan menghadirkan keluarga Soehoed dan Latief (Soehoed dan Abdul Latief Hendraningrat dari Barisan Pelopor). Mereka protes," ungkap Asvi.
Rubrik Surat Pembaca Kompas hari ini (hal 7) ada surat dari Sekjen DPP Legiun Veteran RI, Wahyono, bahwa Ilyas Karim (84) yang mengaku sebagai pengibar bendera merah-putih 17 Agstus 1945 di Pegangsaan Timur No.56, Jakarta, setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi, berbohong. Pengibar yang benar adalah Abdul Latief Hendraningrat dan Soehoed dari Barisan Pelopor. Sementara Ilyas Karim pada 17 Agustus 2011 mendapat apartemen dari PT. Pradani Sukses Abadi di Kalibata City.
Foto: Asvi Warman Adam peneliti sejarah LIPI (kiri), Ilyas Karim dalam seragam TNI dengan pangkat Let.Kol (kanan)
Masya Allah, Sejak Kapan Saya Jadi Pacar Gadis Maluku
Rakyat Merdeka 25 Jan 2010Oleh: Rosihan Anwar
MARILAH saya mulai kisah ini dan awal. Apa pasal? Syahdan pada awal Januari 2009. datang ke rumah di belakang Pasar Antik Jalan Surabaya Jakarta Pusat, Marije Plomp dari NIOD (Nederland Instituut voor Oorlogsdocumentasie - Lembaga Belanda untuk dokumentasi perang). Amsterdam. Untuk tujuan menulis buku, Marije mewawancarai saya tentang Piet de Queljoe. pegawai Kementerian Penerangan Kepala Percetakan Negara tahun 1955 dan tentang Frans Goedhart dari suratkabar Het Parool yang sebagai wartawan Belanda pertama menghadiri HUT Proklamasi Kemerdekaan di Yogya 17 Agustus 1946. Pada tanggal 27 Januari. Marije menulis surat menyampaikan tcnmakasihnya atas cerita-cerita saya tentang Amir Syarifuddin. Soedirman dan lain-lain yang didengarnya dengan penuh keasyikan. Pada penutup suratnya, tercantum kalimat berikut Pertanyaan terakhir, cocokkah kiranya bahwa sebuah foto album dengan gambar-gambar remaja dari anda berada di arsip-arsip Nefis di Nationaal Archief Den Haag? Saya kaget tersentak. Memang sebuah foto albumku telah lama hilang, di zaman revolusi. Kok kini ada di arsip Negeri Belanda? Terkenang lagi, saya malam tanggal 21 Juli 1947. Belanda mulai melancarkan aksi militer pertama terhadap Republik Indonesia. Sebuah truk militer Nica-Belanda berhenti di Jalan Cianjur No 18 tempat kediaman saya bersama Jusuf Ronodipuro. Kepala RRI Jakarta. Waktu itu saya Pemimpin Redaksi Mingguan Politik Siasat, yang terbit 4 Januari 1947. Sebelum itu, sedan 1 Oktober 1945, selama masa satu tahun, saya Redaktur Harian Merdeka. Sebuah regu tentara KNIL dipimpin oleh seorang Belanda bule menggeledah kamar saya, memeriksa semua buku dan majalah yang terletak di meja. Sersan mayor bule itu ditugaskan menangkap anggota TNI, Tentara Penghubung yang berkantor di Jalan Cilacap No 4. Dia datang untuk mengambil Letnan Susantiyo yang biasa menginap di Jalan Cianjur, tapi malam itu ada di Tasikmalaya. Karena sersan itu melihat di meja majalah Siasat yang dikiranya majalah tentara, maka sebagai pengganti Susantiyo. saya diangkutnya ke dalam truk, di mana sudah ada beberapa anggota Tentara Penghubung seperti Mayor MT Haryono (kelak dibunuh dalam peristiwa G30S. 1965), Mayor Wibowo, Letnan Sutrisno dan lain-lain. Kami diangkut ke penjara Bukit Duri di Jatinegara. Di sana, saya dimasukkan ke dalam sel sempit bersama MT Haryono, Sutrisno. Untung saya tidak lama ditahan di penjara. Setelah diketahui saya bukan TNI, melainkan wartawan, maka saya segera dibebaskan, boleh pulang bergabung dengan isteri Zuraida Sanawi yang baru satu tahun dinikahi. Militer Belanda yang menangkap saya telah membawa sejumlah majalah Siasat, dan niscaya juga foto albumku, sudah tidak ada lagi. 60 tahun lebih telah berlalu sejak aksi militer Belanda pertama. Tahu-tahu Marije Plomp menanyakan apakah saya punya foto album dalam arsip Nefis yang disimpan di Arsip Nasional Kerajaan Belanda? Saya minta bantuan Dubes Belanda Dr Nikolaos van Dam dan Jaap Erkelens mantan perwakilan KITLV (Koninkhjke Instituut voor Taal Land en Volkenkunde) di Jakarta yang sedang berada di sini mempersiapkan terbitnya sebuah buku foto mengenai peringatan 100 tahun Sutan Sjahrir (akan terbit Naret 2010). Dapatkah mereka mengusahakan agar foto albumku dikembalikan? Sulit. Album foto itu rupanya diperlakukan sebagai jarahan perang atau oorlogsbuit dan sudah menjadi milik negara atau staats-bezit Belanda. Namun Jaap Erkelens, Marije Plomp dan Ny I Heidebank dari Arsip Nasional Belanda dengan persetujuan Direkturnya, Martin Berendse alih-alih berusaha mereproduksi semua foto yang ada. Kemudian menjelang Idul Fitri 2009 saya terima di Jakarta, sebuah repro album foto tersebut. Dalam suratnya tanggal 9 Oktober 2009, kepada saya. Berendse menulis Jaap Erkelens memberitahukan kepada kami bahwa anda ingat mengenai sebuah penggeledahan (inval) dan Nefis di rumah anda pada 21 Juli 1947. Menurut surat pengantar pada album itu. album sudah dalam bulan April 1946 disita oleh het Buitenkantoor te Batavia. Oleh salah seorang pegawainya dibubuhi catatan di depan di dalam album mengenai diri anda Redacteur Merdeka. Amant van Anna Laluasan zr van RE Laluasan. seer PKI Maloekoe. (Redaktur Merdeka. Kekasih dari Anna Laluasan. adik dari RE Laluasan. Sekretaris PKI Maloekoe). Tidaklah jelas apakah penyitaan (foto album) im mempunyai kaitan dengan pekerjaan anda sebagai wartawan ataukah dengan sebuah penyidikan mengenai bahan yang memberatkan tentang tuan RE Laluasan. Selanjutnya Berendse menulis Pada album ini juga ditambahkan Sebuah kumpulan sajak dari Sanoesi Pane dengan judul Madah Kelana, dengan di depannya catatan "kepunyaan kls HIA". Tiga buah pita alamat (adres-bandn) untuk pengiriman koran-koran atau majalah-majalah dengan tulisan-tulisan berikut Tribune Box 35 Haymarket Australia PO Sidney. Communist Party Australia. Haymarket, Australia, PO Sydney Communist Party Australia. Haymarket, Australia. PO Melbourne. Membaca keterangan rijksarchivans mr Berendse di atas tadi, saya terperangah. Masya Allah! Sejak kapan saya Redacteur Merdeka menjadi Amant (perkataan Perancis untuk Kekasih, pacar) dari seorang gadis Maluku bernama Anna Laluasan? Sama sekali saya tidak kenal gadis itu. Anehnya, dalam kumpulan foto yang direpro bersama foto-foto album saya terdapat foto Anna Laluasan itu sedang duduk dalam pangkuan seorang laki-laki juga Maluku. Saya perhatikan wajahnya, sosok tubuhnya di foto tersebut. Tidak menurut selera saya, sama sekali tidak setara dengan gadis cantik asal Betaw i bernama Ida Sanawi yang waktu itu bersama orang tuanya mengungsi ke Yogya. Tiap kali ada kereta api luar biasa Perdana Menteri Sjahrir pergi ke Yogya untuk sidang kabinet, selalu saya ikut dalam KLB itu. Hanya untuk menengok gadis yang saya taksir. Kemudian sejak kapan saya ada hubungan dengan Partai Komunis Indonesia Maloekoe dan dengan Partai Komunis Australia di Sydney dan Melbourne? Ini sungguh suatu cerita aneh bin ajaib. Atau apakah ini tipikal kerja intel militer Belanda Nefis yang menurut Sejarawan Dr Rushdy Hoesein kepada saya, suka menambah-nambah keterangan yang bukan-bukan dalam sesuatu dokumen? Saya menghadapi sebuah misteri.
Foto atas: Saya bersama Martin Brendse (Direktur Arsip Nasional Belanda)
"Snapshot" Amir Sjarifoeddin

Oleh: Rosihan Anwar
Membaca tulisan Sabam Siagian berjudul Diskusi tentang Alm Amir Sjarifoeddin (SP 31 Mei 2008) tampil lagi di layar ingatan saya beberapa snapshot Bung Amir, sebagaimana saya mengenalnya pada zaman pendudukan Jepang dan hari-hari pertama revolusi Indonesia. Pada suatu malam pertengahan 1942, zaman Jepang, di sebuah gedung di jalan yang kini bernama Merdeka Barat, Jakarta, Barisan Pemuda Asia Raya digembleng oleh Mr Amir Sjarifoeddin, pemimpin nasionalis terkenal. Atas dorongan Dr Abu Hanifah, saya dan Usmar Ismail memasuki perkumpulan Barisan Pemuda Asia Raya, yang selain dilatih berbaris secara militer oleh dua mantan opsir tentara KNIL juga diberi ceramah- ceramah mengenai nasionalisme. Bung Amir menguraikan sejarah pergerakan nasional dan menganjurkan agar pemuda melanjutkan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Pemuda harus senantiasa senasib sepenanggungan dengan rakyat. Juga mendengarkan kata wong cilik. Dia menggunakan sebuah tamsil, yaitu supaya pemuda mendengarkan "radio masyarakat". Saya sangat terkesan oleh kepandaian Bung Amir berpidato. Saya kemudian menulis cerpen untuk ikut dalam perlombaan mengarang yang diselenggarakan oleh majalah Djawa Baroe. Judul cerpen Radio Masyarakat, terpilih sebagai pemenang nomor tiga. Dikasih hadiah Rp 50. Kelak dimuat oleh HB Jassin dalam antologi sastra Gema Tanah Air. Karena buku itu dipakai dalam pelajaran sastra pelajar SMP, saya dikenal sebagai yang menciptakan istilah Angkatan 45 dalam kesusasteraan, dan sebagai penulis cerpen Radio Masyarakat.
Pertemuan kedua dengan Bung Amir terjadi di Stasiun Gambir petang hari 1 Oktober 1945. Pada hari itu Merdeka, yang dipimpin BM Diah, terbit untuk pertama kali. Sebagai redaktur pertama harian Merdeka bersama Wali Kota Jakarta Suwiryo saya menunggu kedatangan Bung Amir dari Surabaya. Dia ditangkap oleh Jepang pada Januari 1943, dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25.000 gulden dari Van der Plas sebelum kapitulasi Belanda kepada Jepang. Dia dihukum mati oleh Jepang, tapi berkat intervensi Soekarno vonis itu tidak dilaksanakan. Bung Amir telah diangkat sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet pertama Presiden Soekarno. Turun dari kereta api dia tampak lelah dan kurus. Jelas dia telah disiksa oleh kempetai Jepang. Dia tidak dapat memberikan keterangan apa-apa kepada wartawan yang datang, cuma satu orang. Dia langsung pulang ke rumah istrinya di Jalan Merbabu. Saya ikuti dia ke sana. Dia tetap tidak mau bicara. Kecuali bertanya "Saudara dulu ada di mana?" Saya jawab "Saya orang biasa, Bung". Segera dia bertugas sebagai Menteri Penerangan. Pada 4 Oktober diselenggarakan konferensi pers pertama dengan koresponden luar negeri yang telah datang di Jakarta. Diceritakannya pengalamannya dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang. Dengan tegas disimpulkannya: "Semua itu menunjukkan cerita-cerita orang di luar bahwa pemerintahan RI adalah boneka Jepang sama sekali tidak benar". Saya terkesan mendengar kefasihan dia bicara dalam bahasa Inggris.
Tak Banyak Bicara
Pada hari yang sama di kediaman Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta menerima para koresponden luar negeri, yang pada waktu itu berpakaian seragam militer dan di pundak ada badge war correspondent. Soekarno didampingi oleh beberapa menteri, seperti, Menlu Subardjo, Mendagri Wiranatakusuma, Menteri Perekonomian Surachman, Menteri Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Menteri Kehakiman Soepomo, dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin yang pakai celana pendek, kaus kaki panjang, gaya uniform Marsekal Lord Wavell. Dia tidak banyak bicara. Yang menjawab pertanyaan Presiden Soekarno
Pada 10 Oktober, Tiongkok merayakan peringatan Kuomintang. Di gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Lapangan Banteng (di zaman Belanda Hooggerechtshof, Mahkamah Agung) Bung Amir berpidato tanpa teks yang dipersiapkan. Dia bicara lancar, menarik, karena merujuk pada fakta-fakta sejarah. Salah satu sound bite diutarakannya ialah "Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mencapai keadilan dan kemakmuran".
Kami berada di Yogya pada 10 November 1945 di Gedung Sociteite, tempat diadakannya Kongres Pertama Pemuda Indonesia. Presiden dan Wakil Presiden hadir, juga Menteri Penerangan. Pukul 10.00 di- terima telepon interlokal dari Surabaya yang mengabarkan "Inggris telah mulai membom". Sumarsono, pemimpin PRI (Pemuda Republik Indonesia), segera menginstruksikan agar delegasi Jawa Timur meninggalkan ruangan dan kembali ke front. Bung Amir mendekati saya dan berkata "Pergilah ke Surabaya. Beritakan pertempuran di situ". Itulah sebabnya saya dan rekan Mohammad Supardi dari Merdeka dengan naik kereta api yang membawa amunisi berangkat meliput pertempuran di Surabaya.
Saya lihat Bung Amir bersama Dr Ak Gani menyambut kedatangan delegasi Belanda di Pelabuhan Cirebon pada November 1946. Ketua Komisi Jenderal Belanda mantan PM Schermerhorn dan Letnan Gubernur Jenderal Van Mook sedang dalam perjalanan ke Linggajati di mana sudah menunggu PM Sutan Sjahrir. Saya tidak dapat bicara dengan Bang Amir waktu itu. Saya bukan wartawan, melainkan ditunjuk oleh pemerintah menjadi ajudan Lord Killearn, sehingga sibuk melayani diplomat Inggris yang jadi mediator perundingan Linggajati. Karena Sjahrir menolak tuntutan Belanda supaya menyetujui pembentukan gendarmerie yang bertanggung jawab atas keamanan dan di- kepalai oleh jenderal Belanda, sedangkan di pasal-pasal politik dia telah memberikan konsesi, terjadi krisis yang menyebabkan Sjahrir mengembalikan mandatnya. Amir Sjarifoeddin tampil sebagai PM pada 3 Juli 1947, tapi dalam kabinetnya Masyumi tidak ikut serta. Atas saran Soekarno, Bung Amir memasukkan orang-orang Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) seperti Wondoamisano, Arudji Kartawinata ke dalam kabinet dan dengan begitu Masyumi terpecah-belah. Sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Siasat, saya diminta datang ke Yogya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Bung Amir. Saya dengarkan uraiannya bahwa dia membutuhkan backing politik golongan Islam terhadap kabinetnya dan karena itu memasukkan PSII ke dalamnya. Tak lama setelah saya balik ke Jakarta, pada 21 Juli 1947 Belanda melancarkan aksi militernya yang pertama terhadap Republik.
Kapal Perang
Kesempatan berikut saya melihat Bung Amir ialah di kapal perang Amerika Renville, yang berlabuh di Tanjung Priok di mana diadakan perundingan dengan pihak Belanda. Bung Amir sedang bercakap-cakap dengan Profesor Frank Graham, wakil Amerika dalam Komisi Tiga Negara (KTN) yang jadi perantara dalam perundingan Renville, Desember 1947 dan berakhir dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville 17 Januari 1948. Waktu bercakap-cakap dengan Graham di geladak Renville, Bung Amir memegang sebuah Kitab Injil. Reaksi partai Masyumi dan PNI terhadap teks perjanjian Renville yang telah ditandatangani oleh PM Amir Sjarifoeddin menimbulkan krisis kabinet. Bung Amir mengembalikan mandat dan kabinetnya digantikan oleh kabinet Mohammad Hatta pada 29 Januari 1948. Sejak itu Bung Amir hilang dari layar radar pengamatan saya. Dari pedalaman datang berita mengenai oposisi keras dari Sayap Kiri yang kemudian menjelma sebagai FDR (Front Demokrasi Rakyat) terhadap kabinet Hatta. Bung Amir aktif di dalamnya. Pada 11 Agustus, Suripno yang mewakili RI di Praha, bersama seorang "sekretaris" terbang dari Bukittinggi ke Yogya dan beberapa hari kemudian mengungkapkan bahwa "sekretaris" itu ada- lah Musso, gembong PKI yang sudah lama bermukim di Uni Soviet.Dengan cepat Musso membubarkan FDR, membentuk PKI. Bung Amir memberikan pengakuan publik bahwa sejak 1935 dia bergabung dengan "Partai Komunis Ilegal" yang dibentuk oleh Musso di Surabaya pada 1936. Lalu Setiadjit, Tan Ling Djie, dan Abdulmadjid, juga mengaku mereka adalah komunis.Pada 18 September 1948 dipimpin oleh Sumarsono pecah pemberontakan PKI di Madiun. Akibatnya, Soekarno-Hatta bertindak tegas terhadap PKI. Musso ditembak mati ketika melarikan diri. Bung Amir bersama Maruto Darusman ditangkap, kemudian menjelang akhir tahun dieksekusi di sebuah desa dekat Solo. Bung Amir tewas dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, setelah menyanyikan lagu "Internationale", dalam usia 41 tahun, masih muda. Apakah Bung Amir komunis? Pertanyaan ini saya ajukan kepada Bung Sjahrir yang menjawab "tidak". Tapi, Sjahrir tidak memberikan alasan mengapa dia menjawab begitu. Bagaimanakah Bung Amir waktu masih studen Rechts Hoge School di Batavia? Tanya saya kepada Dr Abu Hanifah, yang satu asrama dengan Bung Amir. Dijawabnya "Amir itu seniman. Di kamarnya dia suka main biola menggesek lagu-lagu klasik. Pada waktu itu karena pengaruh guru besarnya Profesor Schepper dia sedang tekun membaca Injil, sebagai orang yang semula Islam berganti agama memeluk Kristen. Tidak ada tanda-tanda dia tertarik pada komunisme". George McTurnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifoeddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena "kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville". Dia merasa ditinggalkan oleh AS yang katanya jago demokrasi itu. Tapi, keterangan lain yang saya dengar waktu itu sebabnya Amir menyatakan dirinya komunis adalah untuk tetap bisa berperan sentral di pentas politik, berada at center stage. Mana yang benar, siapa yang tahu? Bung Amir telah membawa sebuah misteri ke alam kubur. Orang boleh mengadakan kajian psiko-analisis dan mungkin di situ bisa diperoleh jawaban untuk menerangkan perilaku Bung Amir. Di mata saya, sebagai wartawan muda di zaman revolusi, Bung Amir adalah seorang nasionalis, idealis, tapi bersamaan juga tragis.
Penulis adalah wartawan senior
Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY
Wednesday, November 26, 2008 at 4:51am
Wednesday, November 26, 2008 at 4:51am
Mr Kasman Singodimejo
Mr. Kasman Singodimedjo (lahir di Poerworedjo, Jawa Tengah, 25 Februari 1904 – meninggal di Jakarta, 25 Oktober 1982 pada umur 78 tahun) adalah Jaksa Agung Indonesia periode 1945 sampai 1946 menggantikan Mr Gatot yang mengundurkan diri dalam kabinet RI pertama. . Selain itu ia juga adalah Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang menjadi cikal bakal dari DPR. Di zaman Jepang Pak Kasman adalah salah satu Daidancho (pimpinan batalyon) Tentara Pembela Tanah Air atau PETA. Markas Batalyonnya terletak Harmoni disebelah Bank Tabungan Pos yang sering disebut Batalyon Jaga Monyet. Selama hidupnya aktif dalam idiologi Islam misalnya Masjumi dan Parmusi. Anehnya saat muda adalah anggota kepanduan Surja Wirawan yaitu organisasi pemuda dibawah Parindra.
Tuesday, February 14, 2012
Peringatan 67 Tahun Pemberontakan PETA Blitar
Dalam rangka peringatan 67 tahun peristiwa Pemberontakan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang dipimpin oleh Shodancho Suprijadi di Blitar, bertempat di Museum PETA Bogor telah diadakan upacara dan Sarasehan. Foto: Atas, Museum PETA Bogor dengan patung Suprijadi didepan. Bawah, para panelis sarasehan: Bapak Alwin Nurdin, Bapak Purbo Suwondo, Bapak Tinton Suprapto (ketua Yayasan PETA) Bapak Sutjipto Kertadjaja dan Bapak Halim Danoeatmodjo. Semoga ada gunanya....
Wednesday, February 01, 2012
Jan Bakker tokoh dibalik pembuangan Bung Karno
Pada tanggal 22 Desember 1948 dalam Agresi Militer Belanda ke II, Presiden Soekarno ditangkap dan dengan B 25 bersama Sjahrir dan H.Agus Salim dibuang ke Brastagi kemudian Prapat di Sumatera Utara. Tokoh perwira intel yang berperan dan mengatur pembuangan ini bernama Jan Bakker. Dalam foto kanan Letnan J Bakker bersama Presiden Soekarno di lapangan terbang Maguwo. Dan sebelah kiri Jan Bakker saat diwawancarai soal jenderal Spoor oleh TV Belanda pada tahun 2010. Kemungkinan Jan Bakker masih hidup saat ini di Belanda. Foto kiri dari capture film TV 'Het Optimisme van general Spoor
Wednesday, January 25, 2012
Penyerahan Surat-Surat Kepercayaan Duta Besar Retno Marsudi
KEDUTAAN BESAR
REPUBLIK INDONESIA
DEN HAAG
Penyerahan
Surat-Surat Kepercayaan Duta Besar Retno Marsudi
kepada Ratu Beatrix
Duta Besar Luar
Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Y.M. Ibu
Retno L.P. Marsudi, telah menyerahkan surat-surat kepercayaan kepada Y.M. Ratu
Beatrix Wilhelmina Armgard di Istana Noordeinde, Den Haag, pada hari ini
tanggal 25 Januari 2012. Duta Besar perempuan pertama dari Indonesia untuk
Kerajaan Belanda ini akan membawa gagasan-gagasan baru dan segar serta kekuatan
baru untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara dan memajukan kepentingan
Indonesia di Belanda sebagai mitra di bidang perdagangan, penanaman modal,
pariwisata serta sebagai pintu gerbang Indonesia ke Eropa.
Dalam kesempatan
tersebut, Duta Besar Retno Marsudi menyampaikan salam hangat Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono kepada Y.M. Ratu serta menyatakan bahwa Indonesia sangat berbesar
hati bahwa Y.M. Ratu dan pemerintahnya memiliki komitmen kuat untuk memperkuat
kemitraan strategis Indonesia-Belanda berdasarkan atas dasar saling menghormati
dan saling menguntungkan.
Y.M. Ratu menyambut hangat kembalinya Duta
Besar Retno Marsudi ke Belanda dan mengharapkan agar tugas-tugas yang akan
diemban oleh beliau sebagai Duta Besar Republik Indonesia berjalan dengan
sukses.
Y.M. Ratu juga
menyampaikan kekagumannya kepada cepatnya kemajuan politik dan ekonomi di
Indonesia dan menekankan pentingnya Indonesia bagi Belanda. Diharapkan hubungan
Indonesia-Belanda akan dapat ditingkatkan di masa depan bagi kemajuan kedua
bangsa.
Dalam upacara ini, Duta
Besar Retno Marsudi didampingi oleh suaminya Bapak Agus Marsudi, Wakil Kepala
Perwakilan Bapak Umar Hadi, Minister Counselor Politik, Minister Counselor
Penerangan dan Sosial Budaya dan Atase Pertahanan.
Subscribe to:
Posts (Atom)



