Friday, February 17, 2012

Inlander Dinilai

Kompas Cetak Sabtu, 4 Desember 2010
Oleh Rosihan Anwar
Saya baca tentang korupsi, kerja sama politik dan kapital demi kekuasaan, penyelewengan hukum, hilangnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga resmi, dan kebobrokan lain.
Sebagai wartawan lepas, saya maklum sudah. Namun, kadang saya ingat aspek sejarah bangsa dan negeri ini yang jarang disinggung. Misalnya, penilaian wartawan Belanda mengenai Inlander, yakni Bumiputra atau pribumi di zaman kolonial. Langsung saja. Yang dimaksud ialah wartawan Willem Walraven (1887-1943) yang pada 15 Maret 1941 menulis kepada pengarang Rob Nieuwenhuys mengenai Inlanders. Sedikit riwayat hidup. Walraven berasal dari keluarga buruh miskin. Tahun 1915 teken kontrak masuk tentara KNIL. Ditempatkan di Cimahi. Berkenalan dengan perempuan Sunda, Itih, yang bekerja di warung kopi pamannya. Itih kemudian jadi istri Walraven yang pindah kerja sebagai asisten penata buku sebuah perusahaan minyak di Banyuwangi. Dia mulai menulis dalam Indische Courant. Setelah belasan tahun menulis di situ dipecat. Menganggur dan miskin. Dia punya enam putra dari Itih yang dididiknya sampai pandai berbahasa Belanda, membaca novel Pearl Buck, Szekely-Lulofs, dan lain-lain. Itih menurut suaminya ”mencurigai Blandas”. Di zaman Jepang, Walraven diinternir, masuk kamp Kesilir di Jawa Timur, dan meninggal di situ karena disentri, malaria, dan lelah fisik. Walraven adalah seorang otodidak dan sosialis. Dia menulis roman berjudul De Clan mengenai Itih istrinya.
Inlanders ituWalraven bicara tentang Inlanders. Dia bilang Inlanders bukan orang demokratis, melainkan orang otokratis yang mau kuasa sendiri tanpa batas. Dalam batin dia orang angkuh, namun biasanya tidak ada arti. Dia membunuh atau bercerai karena hal remeh-temeh. Dia minta berhenti bekerja karena soal sepele. Kata Walraven, I have no patience with them ’saya tidak punya kesabaran dengan mereka’. Dia melanjutkan: saya berharap bagi mereka bahwa masih lama lagi suatu kekuasaan Barat memerintah di sini dalam semangat sebagaimana telah kita kerjakan di negeri ini selama 40 tahun belakangan ini. Saya berharap mereka untuk selama-lamanya bisa mempertahankan suatu sistem peradilan hukum Barat yang murni. Saya harap mereka dilindungi terhadap para diktator. Mereka menginginkan pemerintahan sendiri, nama negeri Indonesia dan menamakan diri mereka Indonesier. Semua itu sangat hampa. Terutama mereka bersikap bermusuhan dengan kita, sedangkan banyak di antara kita di sini sama sekali tidak punya hak istimewa atau lebih berbahagia daripada mereka.
Orang Indonesia
Orang Indonesia terhormat adalah seorang materialis ’mementingkan serba kebendaan’, sama sekali bukan idealis ’hidup dengan cita-cita atau ideal’. Orang Indonesia bukan Marxis, bukan Sosialis, melainkan betul-betul tipikal orang Borjuis, dan itulah alasan sederhana bagi saya mencurigainya secara mendalam sebagai keseluruhan, sebagai massa, demikian kata Walraven.
Borjuis kata bahasa Perancis, artinya anggota kelas yang berpunya, berlawanan dengan kaum buruh dan proletar. Borjuis itu banyak sedikitnya bersifat picik dan bersikap antisosial.
Gambaran lain diberikan oleh pengarang Wischer Hulst dalam bukunya berjudul Becakrijders, Hoeren, Generaals en andere Politici (1980): ”Seorang rohaniwan Belanda yang telah 30 tahun berdiam di Indonesia mengatakan kepada saya ’Ini adalah suatu bangsa politisi. Orang-orang Indonesia dilahirkan dengan naluri atau instinct politik, dan mereka mati dengan itu pula’.”
Membaca penilaian tadi mengenai orang Indonesia tidaklah perlu membuat pembaca zaman sekarang marah dan emosional. Semua itu toh sudah lewat dalam sejarah. Belanda yang pintar menganalisis, melukiskan tabiat orang Indonesia di zaman kolonial, toh sudah kalah perang. Belanda kehilangan tanah jajahannya. Akan tetapi, jikalau kita simak lagi dengan tenang penilaian wartawan Belanda Willem Walraven tadi, jikalau kita jujur berintrospeksi, kita akan mengakui bahwa sifat-sifat dan mentalitas yang tidak terpuji masih ada sisa-sisanya berlanjut hingga generasi Indonesia sekarang yang tak pernah mengenal serta mengalami penjajahan Belanda yang jahat secara subtil itu. Kemudian saya bertanya apakah kita akan dapat mengatasi korupsi, gaya hidup nafsi-nafsi, sikap peduli amat golongan si miskin asalkan gue senang, keadaan yang tak ketulungan lagi seperti kita lihat dan alami sekarang ini dengan sifat dan mentalitas yang dilukiskan dalam penilaian orang Belanda tadi. Saya terkadang bertanya kepada diri sendiri mungkinkah pengetahuan tentang sifat manusia atau mensenkennis yang dipunyai oleh Belanda dahulu terhadap Inlanders yang menyebabkan Belanda dengan sumber daya manusia sipil dan militer yang terbatas itu berhasil dapat menjajah bangsa dan negeri Inlanders dalam masa lama sekali? Sejarawan kita yang pintar-pintarlah yang bisa menjawabnya. Cukup sekian dari seorang wartawan lepas.
Rosihan Anwar Wartawan Lima Zaman
--------------------------------------------

Foto Buku Indische Letteren, Themanummer Van Inlander tot Indonesier. Ada bagian tentang 'Het Indië-beeld van Willem Walraven'


2 Comments:

Blogger Joni Tarigan said...

Melihat situasi kita sampai saat ini saya kira apa yang dikatakan Walaves benar. Kita itu borjuis yang konsumtif tanpa suatu idealisme hidup.

Idealisme gaya hidup, idealisme lingkungan hidup. TIDAK ADA.

Kita lihat tata ruang jaman Belanda mbagus dan tertata rapi,,,sekarang?? semua kacau berantakan. Kita punya planologi kok semberaut???

Korupsi terang2n di pegawai pemerintahan sepertinya hal yang lumrah padahal bejat..!!!...

4:33 PM  
Blogger Rushdy Hoesein said...

Yth Pak Joni Tarigan. Yang kita hadapi sekarang sering dinamakan Post colonial era. Seolah kita sudah merdeka dan bebas dari penjajahan (kita percaya karena adanya Peristiwa Proklamasi) padahal dilihat dari moment of history itu sih biasa-biasa saja. Sebuah bagian dari sejarah bangsa. Kalau saja Proklamasi tidak ada, maka runut sejarah Indonesia mungkin tidak seperti sekarang. Tentu saja apologi penting. Bukankah perintisan kemerdekaan sudah sejak 1908 katanya. Sumpah pemuda 1928 mungkin lebih ada kepastiannya dan yang lebih menentukan justru adalah vacuum of power, yaitu sebuah teori yang dapat menjelaskan dimana kita benar-benar menjadi merdeka karena pada kesempatan kekalah Jepang, sedangkan sekutu belum tiba, kita pakai kesempatan itu untuk Menyatakan Kemerdekaan (Proklamasi)pada tanggal 17 Agustus 1945. Selebihnya terjadi kekosongan peran karena kaum penjajah angkat kaki. Lubang-lubang itu akhirnya diisi bangsa sendiri. Semisal tuan Belanda bernama Schoon diganti dengan Pak Bersih. Mrs Good diganti Nyonya Baik. Apakah itu ada jaminan ? Sepertinya ya, tapi alam kemerdekaan merupakan zaman Merdeka Bebas. Semua orang bisa bikin apa saja terkecuali ada kesempatan bagi bangsa ini untuk menata peradaban sesuai budaya bangsa yang dicita-citakan. Masih jauhkah itu ? Wallahualam Bisawab. Tanyalah pada rumput yang bergoyang.

3:37 PM  

Post a Comment

<< Home